Chef Jovan Ungkap Kekuatan Identitas Kuliner Manado

  • 18 Agt 2026 12:14 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Kuliner Manado dikenal dengan karakter rasa yang kuat, mulai dari gurih, segar, pedas hingga kaya rempah. Namun, bagi Chef Jovan Koraag, kekuatan kuliner Manado tidak hanya terletak pada cita rasanya, tetapi juga pada cerita, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat Minahasa yang melekat di dalamnya.

Hal tersebut disampaikan Chef Jovan dalam dialog Culinary Tales Jilid 4 “Rasa Baku Dapa” bersama RRI Pro 2 Malang , Jumat (14/8/2026). Jovan merupakan chef dari Mata Karanjang, restoran kasual di Jakarta Selatan yang membawa sajian khas Manado dan Minahasa dengan pendekatan modern.

Menurut Jovan, salah satu karakter utama masakan Manado adalah keberanian dalam mengolah rasa. Penggunaan rempah yang melimpah berpadu dengan hasil laut dan hasil bumi lokal yang segar, menghasilkan cita rasa yang kuat namun tetap seimbang.

“Cita rasa Manado itu kuat dan berani. Ada gurih, segar, pedas, kaya rempah, tapi tetap seimbang. Itu yang menjadi salah satu identitasnya,” ujar Jovan saat diwawancara oleh RRI Malang dalam program SPADA PRO 2 Bersama Host Irene Nathasya.

Ia mengatakan, kekayaan kuliner tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Minahasa. Setiap hidangan memiliki cerita yang berkaitan dengan keluarga, tradisi, hingga budaya masyarakat setempat.

Teknik memasak pun banyak diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan mengenai bahan, bumbu, hingga cara mengolah makanan tidak hanya dipelajari melalui resep tertulis, tetapi juga melalui praktik dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Menariknya, menurut Jovan, aktivitas memasak dalam masyarakat Minahasa juga tidak sepenuhnya identik dengan perempuan. Dalam berbagai kegiatan adat dan acara keluarga, laki-laki turut mengambil peran di dapur.

“Kalau ada acara adat, laki-laki juga turun ke dapur, ikut membantu dan memasak. Jadi memasak itu memang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa makanan bagi masyarakat Minahasa memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Makanan menjadi bagian dari ruang berkumpul, mempererat hubungan keluarga, serta menjalankan tradisi.

Jovan menilai, kekayaan tersebut menjadi modal penting ketika kuliner Manado diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas. Modernisasi kuliner, menurutnya, bukan berarti menghilangkan karakter asli makanan.

Sebaliknya, inovasi dapat menjadi cara untuk membuat makanan tradisional tetap relevan bagi generasi baru, selama akar budaya dan karakter rasanya tetap dipertahankan.

Pendekatan tersebut juga diterapkan Jovan melalui Mata Karanjang. Sajian Manado dan Minahasa dikembangkan dengan pendekatan yang lebih modern, tetapi tetap mempertahankan karakter bahan dan cita rasa yang menjadi identitasnya.

Bagi Jovan, tantangan terbesar kuliner tradisional bukan hanya bagaimana mempertahankan resep, tetapi bagaimana memastikan pengetahuan dan cerita di balik makanan tersebut terus hidup.

Di tengah perubahan selera dan berkembangnya industri kuliner, makanan tradisional perlu memiliki ruang untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas.

“Kalau kita bicara kuliner, yang kita jaga bukan cuma makanannya, tetapi juga cerita dan tradisi yang ada di belakangnya,” ujar Jovan.

Melalui Culinary Tales Jilid 4 “Rasa Baku Dapa”, kekayaan kuliner Manado kembali diperkenalkan sebagai bagian dari gastronomi Nusantara. Konsep tersebut mempertemukan makanan dengan cerita budaya yang melatarbelakanginya.

Bagi Jovan, keberlanjutan kuliner daerah pada akhirnya bergantung pada kemampuan generasi berikutnya untuk mengenal, memahami, dan mengembangkan warisan tersebut.

Sebab, ketika sebuah makanan tetap hidup di meja makan dan terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, identitas budaya yang menyertainya juga memiliki peluang untuk terus bertahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....