Chef Jovan dan Edwin Pangestu Bawa Cerita Kuliner Manado
- 17 Agt 2026 12:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kuliner tidak lagi sekadar persoalan rasa, tetapi juga menjadi medium untuk mengenalkan identitas, sejarah, dan kekayaan budaya Indonesia. Semangat tersebut diangkat dalam Culinary Tales Jilid 4 bertajuk “Rasa Baku Dapa”, yang menghadirkan Chef Jovan Koraag dari Mata Karanjang Jakarta dan Founder Gastronusa Edwin Pangestu.
Keduanya hadir sebagai narasumber dalam dialog interaktif bersama RRI Pro 2 Malang, Jumat (14/8/2026). Perbincangan tersebut mengangkat kuliner Manado dan Minahasa sebagai bagian dari kekayaan gastronomi Indonesia sekaligus membahas pentingnya menjaga cerita di balik setiap hidangan.
Chef Jovan Koraag dikenal sebagai sosok yang membawa kuliner Manado ke dalam pendekatan yang lebih modern melalui Mata Karanjang, restoran di Jakarta Selatan yang menyajikan masakan khas Manado dan Minahasa dengan sentuhan teknik kuliner modern.
Pendekatan tersebut tidak menghilangkan karakter asli masakan Manado. Sebaliknya, Jovan menekankan keseimbangan rasa dengan tetap mempertahankan kekuatan rempah dan bahan-bahan khas Sulawesi Utara.
Rekam jejak Jovan juga mendapat perhatian di dunia kuliner. Pada 2026, Mata Karanjang disebut masuk dalam daftar Asia's 50 Best Restaurants 2026. Chef Jovan juga aktif memperkenalkan teknik dan cita rasa masakan Manado melalui berbagai kegiatan kuliner, termasuk kelas memasak.
Dalam dialog, Jovan menjelaskan bahwa kekuatan kuliner Manado tidak hanya terletak pada rasa pedas atau penggunaan rempah yang berani. Masakan Minahasa juga memiliki cerita tentang keluarga, tradisi, bahan lokal, serta teknik memasak yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Konsep tersebut kemudian dipertemukan dengan pengalaman The Shalimar Boutique Hotel Malang melalui Culinary Tales Jilid 4 “Rasa Baku Dapa”.
Istilah “Baku Dapa” dalam bahasa Manado berarti bertemu atau berkumpul. Filosofi tersebut menjadi benang merah acara yang ingin menjadikan makanan sebagai ruang pertemuan antara manusia, budaya, cerita, dan pengalaman.
“Rasa Baku Dapa” menghadirkan pengalaman bersantap yang tidak berhenti pada menu di atas meja. Para pengunjung diajak mengikuti dining journey melalui sepuluh sajian khas Manado yang dikurasi secara khusus, lengkap dengan pilihan beverage pairing untuk melengkapi karakter setiap hidangan.
Menu yang disiapkan antara lain Tuna Gohu, Perkedel Milu, Brenebon, Sapi Bumbu Minahasa, Ayam Bulu, Cakalang Saos, Nasi Jahe, Pangi, Kangkung Bunga Pepaya, hingga hidangan penutup.
Sementara itu, Founder Gastronusa, Edwin Pangestu, membawa perspektif yang lebih luas mengenai posisi gastronomi Indonesia. Edwin selama ini aktif membangun Gastronusa sebagai media dan wadah yang mengangkat berbagai cerita tentang kuliner Indonesia.
Edwin juga tercatat aktif mendorong kuliner Indonesia tidak hanya dipandang sebagai produk konsumsi, tetapi sebagai bagian dari kekayaan intelektual dan identitas budaya. Dalam forum yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif pada Mei 2026, misalnya, Edwin menekankan pentingnya memperkenalkan ragam kuliner tradisional sebagai kekayaan intelektual Indonesia.
Perspektif tersebut menjadi relevan dalam Culinary Tales. Menurut konsep acara, gastronomi bukan hanya berbicara mengenai rasa, tetapi juga mengenai sejarah, budaya, antropologi, hingga kehidupan masyarakat di balik sebuah hidangan.
Karena itu, makanan khas Manado yang dihadirkan dalam Culinary Tales tidak sekadar diposisikan sebagai menu. Setiap sajian menjadi bagian dari cerita mengenai masyarakat Minahasa dan bagaimana tradisi kuliner terus diwariskan sekaligus dikembangkan.
Kolaborasi Chef Jovan dan Gastronusa dalam Culinary Tales juga menunjukkan adanya ruang pertemuan antara chef, pelaku industri, media, komunitas, dan pecinta kuliner untuk memperkenalkan kekayaan gastronomi Nusantara kepada khalayak yang lebih luas.
Bagi Chef Jovan, tantangannya adalah bagaimana membawa makanan tradisional ke dalam pengalaman kuliner yang lebih modern tanpa kehilangan identitas. Sementara bagi Edwin, tantangan gastronomi Indonesia adalah bagaimana cerita di balik makanan dapat terus didokumentasikan dan diperkenalkan sehingga tidak berhenti sebagai sekadar konsumsi.
Culinary Tales Jilid 4 “Rasa Baku Dapa” berlangsung pada 15–16 Agustus 2026 di de Hemel Restaurant, The Shalimar Boutique Hotel Malang. Pengalaman bersantap tersebut ditawarkan dengan harga Rp550 ribu++ per orang.
Melalui konsep tersebut, Culinary Tales diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap gastronomi Indonesia sekaligus mempertemukan kekayaan rasa dengan cerita budaya yang melatarbelakanginya.
Sebab, ketika sebuah makanan tidak hanya dinikmati tetapi juga dipahami ceritanya, satu hidangan dapat menjadi cara sederhana untuk mengenal Indonesia lebih dekat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....