Tak Disangka, Warteg Lahir dari Proyek Raksasa Ibu Kota di Era Soekarno
- 09 Mei 2026 09:10 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Fenomena warung Tegal atau warteg mulai menjamur sekitar tahun 1950-an hingga 1960-an, seiring dengan masifnya pembangunan infrastruktur di Jakarta pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, Jakarta menjadi pusat berbagai proyek besar yang menarik gelombang urbanisasi dari berbagai daerah, termasuk dari Tegal, Jawa Tengah.
Banyak warga Tegal yang merantau ke ibu kota untuk bekerja sebagai buruh bangunan atau pekerja kasar di proyek-proyek tersebut. Melihat kebutuhan akan makanan yang murah, cepat, dan mengenyangkan, keluarga para pekerja kemudian berinisiatif membuka warung makan sederhana di sekitar lokasi proyek. Warung inilah yang kemudian dikenal sebagai Warung Tegal atau warteg.
Pada awal kemunculannya, warteg memiliki fungsi yang sangat praktis, yakni menyediakan makanan dengan harga terjangkau bagi para pekerja proyek. Menu yang disajikan pun sederhana, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan energi para kuli bangunan yang bekerja seharian. Dari sini, warteg tumbuh sebagai bagian penting dari kehidupan pekerja urban di Jakarta.
Menariknya, warteg juga memiliki identitas visual yang khas. Bangunan warteg umumnya dicat dengan warna mencolok dan memiliki dua pintu di sisi kanan dan kiri. Desain pintu ganda ini bukan tanpa alasan, melainkan dibuat untuk memperlancar keluar masuk pembeli, terutama saat jam makan siang yang biasanya sangat ramai dan padat oleh pekerja proyek.
Seiring perkembangan waktu, warteg tidak lagi hanya menjadi warung makan pinggir jalan yang sederhana. Warteg terus beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan konsumen. Kini, muncul konsep warteg modern seperti “Warteg Bahari” yang menawarkan tempat makan lebih bersih, nyaman, bahkan beberapa sudah dilengkapi pendingin ruangan dan terintegrasi dengan layanan pesan antar berbasis aplikasi ojek online.
Selain itu, para pelaku usaha warteg juga memiliki kekuatan kolektif melalui organisasi Koperasi Warung Tegal (Kowarteg). Komunitas ini menjadi wadah solidaritas bagi para perantau Tegal di Jakarta untuk saling membantu, memperkuat modal usaha, hingga menjaga keberlangsungan bisnis warteg agar tetap eksis di tengah persaingan industri kuliner.
Dari warung sederhana yang lahir untuk melayani para pekerja proyek, warteg kini berkembang menjadi ikon kuliner nasional. Keberadaannya tidak hanya menjadi solusi makanan murah bagi masyarakat, tetapi juga simbol ketahanan ekonomi rakyat dan keberhasilan usaha mikro yang mampu bertahan lintas generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....