Perjuangan Kuliner Tuang Sae, Sarat Makna Filosofis

  • 19 Jan 2026 12:51 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Owner Tuang Sae Malang, Yulieth Pramudya Ayu, berbagi kisah inspiratif dalam program Jagongan UMKM RRI Pro 4 Malang yang disiarkan pada Senin (19/1/2026).

Yulieth menceritakan perjalanan panjang membangun brand kuliner Tuang Sae yang lahir dari ide kreatif anak-anak dan penuh filosofi kehidupan.

Yulieth menjelaskan bahwa nama Tuang Sae memiliki makna mendalam. Kata tuang berarti menuangkan atau menyajikan sesuatu, karena menurutnya dalam bidang kuliner, makanan apa pun, bahkan yang disajikan dalam gelas, tetap memiliki nilai rasa. Sementara sae berarti bagus, layak disajikan di piring atau mangkuk dengan cita rasa yang memuaskan.

"Filosofi ini mencerminkan harapan agar setiap sajian Tuang Sae mampu memberikan kepuasan bagi pelanggan, baik dari segi rasa maupun pengalaman menikmati makanan," kata Yulieth.

Ide awal Tuang Sae bermula pada tahun 2018, saat anak-anak Yulieth yang masih duduk di bangku SMA terinspirasi oleh jajanan daerah lain yang sedang booming, salah satunya seblak. Berbekal proses coba-coba rasa dan pemasaran secara online, usaha ini mulai dikenal.

"Dalam bahasa Sunda, tuang juga berarti makan, sedangkan sae identik dengan ungkapan kebaikan, sehingga semakin menguatkan identitas Tuang Sae sebagai kuliner khas dengan sentuhan Pasundan," katanya.

Di balik kesuksesan tersebut, Yulieth mengungkapkan perjuangan hidup yang tidak mudah. Sebagai penyandang disabilitas tuna netra dan berlatar belakang tenaga medis, ia memilih untuk tidak meratapi keadaan.

Keterbatasan justru mendorongnya beralih ke dunia usaha, tidak hanya kuliner tetapi juga jasa, termasuk membangun manajemen usaha secara mandiri. Ia menegaskan bahwa hidup harus terus diperjuangkan, bukan disesali.

Tuang Sae mulai membuka kedai kecil pada 30 Juni 2020, tepat di masa pandemi Covid-19. Namun, usaha ini sempat kembali terpuruk pada Januari 2021. Setelah lebih dari satu tahun bertahan, Tuang Sae bangkit kembali pada 2022 dengan melakukan penyesuaian menu, meski tetap mempertahankan jajanan khas Pasundan seperti bakso dan aci.

"Berkat rezeki dan dukungan keluarga, lahan kecil di rumah disulap menjadi kedai mini yang berlokasi di Jalan Manyar No. 6, Sukun, Malang, dengan nama Warkop Warmindo, Kedai dan Katering Tuang Sae Malang," terang Yulieth.

Menu andalan Tuang Sae antara lain tahu telur, ketoprak, tahu lontong, aneka omelet, seblak, hingga sego sambel darplok. Selain itu, Tuang Sae juga hadir di Pujasera Basuki Rahmat 15 Kayutangan dan melayani pemesanan melalui e-commerce, khususnya GrabFood.

"Legalitas usaha pun terus dilengkapi hingga memperoleh sertifikasi halal dengan pendampingan dari instansi terkait," ujarnya.

Sebagai seorang ibu dan mantan paramedis, Yulieth menanamkan nilai kemandirian kepada anak-anaknya dengan melibatkan mereka dalam aktivitas memasak dan usaha sehari-hari. Ia meyakini setiap anak memiliki kelebihan masing-masing yang harus diarahkan agar kelak mandiri dan mampu lepas dari ketergantungan orang tua.

"Harapannya, Tuang Sae dapat terus berkelanjutan, membawa keberkahan, dan diterima oleh semua kalangan, baik anak muda maupun orang tua," katanya.

Menutup perbincangan, Yulieth berpesan kepada para pelaku UMKM agar tidak mudah lelah dan putus asa. Dalam kondisi apa pun, selalu ada jalan untuk tetap berkarya melalui dukungan orang-orang di sekitar. Informasi lebih lanjut mengenai Tuang Sae Malang dapat diakses melalui Instagram @tuangsaemlg.(Mey)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....