Pecel Ema, Kuliner Pagi Andalan dari Pujon Lor

  • 07 Jul 2025 10:43 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Dari sebuah meja pinjaman di pinggir jalan hingga kini menjadi warung favorit warga dan pelintas, Warung Pecel Ema milik Ibu Suhati Ningse di Pujon Lor, Kecamatan Pujon, telah menempuh perjalanan panjang penuh perjuangan dan dedikasi.

Berawal pada tahun 2019, usaha pecel ini hanya buka setiap Sabtu dan Minggu, bertepatan dengan kegiatan senam pagi di kantor desa. Dengan modal seadanya, Ibu Suhati dan ibunya, yang akrab disapa Emak, memulai usaha ini dari rumah tanpa peralatan memadai. “Awalnya cuma bawa 3 kilo nasi, dan mejanya pun pinjam dari BKK,” kenang Ibu Suhati, Senin (7/7/2025).

Namun pandemi COVID-19 sempat membuat usaha ini vakum selama tujuh bulan. Meski sempat terhenti, semangat untuk bangkit tak padam. Tahun 2022 menjadi titik balik, saat mereka kembali membuka lapak secara lesehan di pinggir jalan. Tanpa disangka, setiap hari dagangan mereka ludes dalam waktu dua jam.

Permintaan yang terus meningkat membuat Pecel Ema semakin dikenal. Bahkan kini warungnya sudah memiliki tempat tetap dengan kontrak sewa. Bangunannya dibeli sendiri dari hasil jerih payah, meskipun tanahnya masih sewa. Kini Warung Pecel Ema telah mempekerjakan 7 karyawan tetap, yang sebagian besar merupakan saudara dan warga sekitar yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan.

Yang membuat Warung Pecel Ema begitu istimewa adalah resep bumbu pecel khas yang diracik langsung oleh Emak, yang kini berusia hampir 70 tahun. Meski sudah sepuh, Emak tetap aktif memasak dan turun langsung membantu operasional warung.

Bumbu pecelnya dibuat secara manual dari kacang tanah sangrai dan gula merah pilihan, tanpa mesin, dengan dua varian rasa: pedas dan tidak pedas. “Kami sesuaikan dengan lidah warga Malang yang cenderung tidak terlalu suka manis,” ujar Ibu Suhati.

Yang juga menjadi daya tarik adalah keberagaman sayurannya. Dulu warung ini menyajikan hingga 17 jenis sayuran dalam satu porsi pecel. Kini, meski lebih ramping, tetap menyajikan kombinasi unik seperti daun kenikir, bayam, labusiam, kol, pepaya serut, hingga lamtoro. Pelengkap pecel pun beragam, dari tempe, tahu belambel, telur ceplok, ayam goreng, hingga sate jeroan.

Popularitas Warung Pecel Ema terus meningkat, tidak hanya dari pelanggan tetap, tetapi juga dari pelintas yang lewat jalur Malang–Blitar. Lewat promosi sederhana melalui status WhatsApp, hingga kedatangan para vlogger kuliner, kini nama Pecel Ema dikenal hingga luar kota. Bahkan ada pelanggan yang membawa bumbu pecelnya ke luar negeri, seperti Mekah dan Palembang.

Meskipun hingga kini belum menjual bumbu secara resmi karena keterbatasan tenaga dan alat, permintaan dari luar kota terus berdatangan.

“Kami masih proses untuk memperluas usaha, tapi keterbatasan alat dan tenaga menjadi tantangan utama,” jelasnya.

Ibu Suhati berharap bisa segera mematenkan nama Warung Pecel Ema agar tidak disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab. Ia juga berencana menjual bumbu pecel dalam kemasan jika sudah siap secara produksi.

Kini, Warung Pecel Ema buka setiap hari mulai pukul 05.30 pagi hingga sekitar pukul 12 siang, namun sering kali sudah habis sebelum tengah hari. Bagi Anda yang melintas di jalur Malang–Blitar, singgahlah di Warung Pecel Ema yang berlokasi tak jauh dari SD Pujon Lor, dan rasakan sendiri kehangatan dan kelezatan kuliner penuh cinta dari seorang ibu dan Emak yang tak pernah menyerah. (Wafi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....