Menikmati Sajian Tempo Doeloe dalam Balutan Alam Malang

  • 23 Jun 2025 10:45 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang : Cafe Sawah di Desa Wisata Pujon Kidul disulap menjadi saksi sebuah jamuan makan malam yang spesial bernama Wedhangan pada Sabtu (21/6/2026). Sebuah event kuliner dan budaya yang digagas oleh ORION, kelompok Praktikum Public Relations 3, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bekerjasama dengan Cafe Sawah.

Athalia Jasmine, panitia Wedhangan mengungkapkan bahwa konsep yang diangkat adalah Malang Tempo Doeloe. Namun, bukan dalam bentuk museum ataupun pameran sejarah, melainkan melalui pengalaman kuliner yang unik.

“Pengalaman unik ini dari cara penyambutan, sajian yang disantap, hingga aktivitas yang dihadirkan. Setiap pengunjung dipakaikan ikat kepala dan selendang sebagai penanda bahwa mereka kini bukan hanya tamu, melainkan bagian dari cerita yang sedang dibangun,” ungkapnya.

Dalam momen ini, minuman asam jawa dingin disuguhkan sebagai welcome drink, menyambut setiap yang datang dengan senyuman raman dah suasana hangat.

Sebelum masuk ke sesi makan malam, tamu diajak mengeksplor suasana lewat kegiatan yang interaktif, seperti berkeliling sawah menggunakan mobil golf, pertunjukan seni tari dan pencak silat, bermain game menebak rempah dengan mata tertutup, hingga sesi meracik wedang.

“Jadi ada spot khusus yang menyediakan berbagai jajanan pasar seperti cenil, dawet, sawut, dan kentang urap,” ujarnya.

Selanjutnya, redupnya lampu dan lilin kecil yang mulai menyala menjadi pertanda bahwa acara puncak telah dimulai. Pramusaji datang dan menghidangkan berbagai macam makanan.

Meja yang awalnya hanya dihiasi dengan bunga dan lilin, perlahan-lahan dipenuhi makanan yang legit. Diawali dengan lumpia, tahu petis, dan tempe menjes sebagai makanan pembuka. Disusul dengan ikan atau ayam bakar, urap-urap, tempe goreng, dadar jagung, dan sayur bobor. Pengunjung dapat memilih jenis nasi yang mereka suka, ada nasi putih, nasi jagung, dan nasi empok.

Hidangan ditutup dengan buah-buahan sebagai pencuci mulut, pudding pandan, serta angsle yang disajikan dengan cantik. Tidak berhenti disitu, susu jahe dan teh manis dihidangkan dalam kondisi hangat.

“Seluruh peralatan makan seperti piring, mangkok, bahkan sendok dan garpu yang digunakan terbuat dari anyaman bambu, tanah liat, hingga batok kelapa. Ini untuk menambah kesan tradisional yang semakin kental,” ucapnya.

Menurutnya, wedhangan tak hanya soal rasa, tetapi pengalaman yang menjadi poin inti dari Wedhangan. Dekorasi sederhana dengan sentuhan klasik dan jadul, musik karawitan yang mengalun lembut, serta cara penyajian makanan yang menyatu dengan tema membuat suasana terasa akrab dan tulus. Acara ditutup dengan kembang api serta pemberian souvenir manis sebagai kenang kenangan.

Jasmine menambahkan, melalui Wedhangan, ORION memberikan contoh bahwa kreativitas anak muda dapat menjadi jembatan antara budaya lama dan budaya baru.

“Pengalaman kuliner bisa menjadi lebih dari sekadar makan malam, tapi juga ruang pertemuan antara rasa, ingatan, dan identitas,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....