Mengungkap Bahaya Olahan Tepung untuk Tubuh

  • 21 Mei 2024 08:59 WIB
  •  Malang
KBRN, Malang : Makanan olahan berbahan dasar tepung banyak diminati. Kendati mudah ditemukan dan rasanya nikmat, namun ternyata jenis penganan ini berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan.

Hal ini diungkapkan spesialis keperawatan endokrin dan metabolik sekaligus dosen Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ns. Zaqqi Ubaidillah, M. Kep., Sp. Kep. MB. Menurutnya, tepung olahan dapat berkontribusi pada berbagai kondisi kesehatan yang serius, termasuk penambahan berat badan, sindrom metabolik, diabetes, penyakit jantung, gangguan kognitif, kecanduan makanan, depresi, kanker dan jerawat.

“Mengonsumsi tepung olahan, khususnya tepung terigu putih yang umum digunakan dalam roti dan makanan olahan, dapat berkontribusi pada pertambahan berat badan dan obesitas. Tepung olahan ini cenderung meningkatkan lemak dalam tubuh dan mengganggu proses oksidasi lemak yang berperan dalam membakar lemak untuk energi,” ungkapnya, Selasa (21/5/2024).

Selain itu, sambungnya, konsumsi tepung olahan juga dapat memicu peradangan mikrobiota usus, yang dapat mengganggu metabolisme dan menyebabkan penambahan berat badan. Konsumsi tepung olahan juga dapat menyebabkan resistensi insulin, yang merupakan prediktor penting dari sindrom metabolik dan diabetes tipe 2.

“Makanan tepung banyak mengandung alloxan. Alloxan adalah senyawa kimia yang dapat menyebabkan gangguan pada sel beta pankreas yang menghasilkan insulin. Sel beta pankreas penting untuk menjaga kadar glukosa darah tetap stabil,” ujarmya.

“Alloxan secara khusus dapat merusak sel beta pankreas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan diabetes. Resistensi insulin yang disebabkan oleh konsumsi karbohidrat olahan juga berkontribusi pada tekanan darah tinggi atau hipertensi,” imbuhnya.

Zaqqi mendorong masyarakat untuk mengurangi karbohidrat olahan sebagai langkah pertama dalam mengelola hipertensi. Sebuah riset menjelaskan bahwa pola makan rendah karbohidrat olahan menyebabkan penurunan tekanan darah secara signifikan.

“Tepung olahan ini sebagai penyebab meningkatkan penyakit kardiovaskular. Konsumsi karbohidrat olahan menyebabkan ketidakseimbangan gula darah, peradangan sistemik, dan kerusakan pembuluh darah, yang dapat menyebabkan penyakit jantung,” ujarnya.

Selama berpuluh-puluh tahun, lemak dalam makanan sering disalah artikan sebagai penyebab penyakit kardiovaskular. Kesalahan ini berujung pada dikembangkannya pedoman diet rendah lemak dan tinggi karbohidrat yang terkenal di Amerika Serikat.

“Sehingga masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan bahaya karbohidrat olahan bagi kesehatan, serta mempertimbangkan untuk mengganti sumber karbohidrat dengan pilihan yang lebih sehat. Misalnya saja biji-bijian utuh dan alternatif tepung non-terigu,” tegasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....