Trauma Psikologis Bisa Pulih, Ini Penjelasan Dokter Jiwa
- 30 Sep 2026 16:49 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Pengalaman traumatis dapat meninggalkan dampak psikologis yang tidak selalu langsung terlihat. Bahkan, pada sebagian orang, respons terhadap trauma baru muncul berbulan-bulan hingga bertahun-tahun kemudian ketika terdapat pemicu yang mengingatkan pada pengalaman masa lalu.
Hal tersebut disampaikan Dr. Ika Nurfariida, M.Sc., SpKJ, dokter spesialis kedokteran jiwa RS Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang dalam program Jaga Malam Mental Health Pro 2 RRI Malang bertema “Trauma Psikologis: Bisakah Pulih Sepenuhnya?”.
Menurut Dr. Ika, trauma terjadi ketika seseorang menghadapi peristiwa yang tidak menyenangkan, menakutkan, mengerikan, atau mengancam. Kondisi tersebut tidak hanya memunculkan respons psikologis, tetapi juga respons biologis berupa peningkatan hormon stres.
“Trauma itu ketika seseorang mengalami atau menghadapi suatu peristiwa yang tidak menyenangkan, peristiwa yang mengerikan atau peristiwa yang menakutkan. Sehingga pada saat menghadapi kondisi seperti itu, akan timbul suatu respons biologis di dalam tubuh kita,” jelas Dr. Ika.
Ia menerangkan, respons seseorang terhadap trauma dapat berbeda-beda karena setiap individu memiliki tingkat resiliensi biologis dan psikologis yang berbeda. Trauma juga tidak selalu muncul secara langsung. Pada awalnya seseorang bisa terlihat mampu beradaptasi, tetapi gejala dapat muncul kemudian ketika menghadapi pemicu tertentu.
Dr. Ika membedakan trauma dengan stres sehari-hari. Stres umumnya berkaitan dengan situasi keseharian dan dapat membaik setelah pemicu hilang, disertai istirahat atau dukungan sosial. Sementara trauma lebih sering berkaitan dengan peristiwa yang mengancam, membahayakan, atau mengerikan. Peristiwa yang terjadi berulang kali juga dapat meninggalkan dampak traumatis.
Salah satu hal yang sering dianggap sebagai solusi adalah meminta seseorang untuk melupakan pengalaman buruk yang pernah dialaminya. Namun, menurut Dr. Ika, manusia tidak dapat begitu saja menghapus pengalaman dari ingatan.
“Yang bisa adalah kita memanage, kemudian kita memfokuskan pada kondisi yang sekarang. Atau yang populer kita sebut dengan mindfulness,” ujarnya.
Mindfulness dilakukan dengan mengarahkan perhatian pada kondisi saat ini atau here and now. Selain itu, teknik grounding juga dapat digunakan dengan melibatkan pancaindra untuk menyadari apa yang sedang dilihat, didengar, disentuh, dicium, maupun dirasakan pada saat ini.
Dr. Ika menambahkan, proses pemulihan setiap orang tidak sama. Pendekatan yang diberikan perlu mempertimbangkan intensitas trauma, kondisi psikososial, tingkat resiliensi, serta kondisi kognitif masing-masing individu.
Menurut Dr. Ika, seseorang perlu mulai menyadari kebutuhan untuk mendapatkan bantuan ketika dampak trauma sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, seperti kehilangan fokus, kehilangan kenyamanan, atau terus dihantui pengalaman masa lalu.
Jika berbagai upaya mandiri seperti memperbaiki pola hidup, melakukan manajemen stres, membangun komunikasi, dan mencari dukungan belum cukup membantu, Dr. Ika menyarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
| Baca juga: Puasa Pasien Kanker Perlu Pengawasan Medis |
“Kalau misalkan sudah melakukan sendiri upaya-upaya, memodifikasi perilaku, tapi masih saja belum sepenuhnya efektif, silakan segera datang ke profesional,” katanya.
Dalam kondisi tertentu, penanganan dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan sesuai kebutuhan individu. Dr. Ika juga menyebut adanya layanan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) di RS Dr. Radjiman Wediodiningrat sebagai salah satu fasilitas yang dapat digunakan sesuai indikasi medis.
Selain bantuan profesional, lingkungan terdekat juga memiliki peran penting dalam proses pemulihan. Keluarga atau teman dapat memberikan dukungan dengan menjadi pendengar dan membantu seseorang menjalani aktivitas positif tanpa memberikan penilaian yang menghakimi.
“Yang pertama, dengarkan. Jadi listeners dulu. Kemudian dukung, support aktivitas-aktivitas yang positif,” kata Dr. Ika.
Ia menekankan bahwa dukungan tidak harus selalu datang dari keluarga. Ketika dukungan keluarga sulit diperoleh, seseorang dapat mencari komunitas positif yang memberikan rasa aman dan dukungan sosial.
Bagi mereka yang masih membawa luka dari masa lalu, Dr. Ika mengingatkan bahwa proses pemulihan membutuhkan kesadaran dan usaha. Pulih bukan berarti harus menghapus seluruh ingatan tentang peristiwa tersebut, melainkan mampu menjalani kehidupan saat ini tanpa terus-menerus dibayangi pengalaman masa lalu.
“Pulih itu artinya kalau kita pada saat ini bisa beraktivitas sesuai dengan kita saat ini, tidak lagi dibayang-bayangi oleh peristiwa itu sampai mengganggu aktivitas,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....