Keluarga Berperan Penting Dampingi Pasien Diabetes
- 29 Sep 2026 14:30 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang: Keluarga berperan penting dalam mendampingi pasien diabetes yang sedang menghadapi perubahan pola hidup, pengobatan, dan kondisi emosional. Dukungan keluarga dibutuhkan agar pasien tidak merasa menjalani penyakit seorang diri, terutama ketika muncul rasa jenuh, takut, marah, atau kehilangan semangat menjalani pengobatan. Penelitian mengenai pasien diabetes juga menunjukkan adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan proses berduka yang dialami pasien.
Dalam dialog Bersama RRI Malang, Selasa (29/9/2026), Dosen Keperawatan Poltekkes Malang, Eddi Sudjarwo, mengatakan keluarga perlu berhati-hati dalam menghadapi pasien diabetes yang sedang mengalami tekanan emosional. Keluarga tidak cukup hanya mengingatkan pasien mengenai makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi, tetapi juga perlu memberikan dukungan agar pasien tetap merasa dihargai dan memiliki peran dalam keluarga. “Harus mengubah pikiran negatif dengan afirmasi positif, menjadikan mereka orang yang berharga,” jelas Eddi.
Sikap keluarga yang terlalu sering melarang, memarahi, atau menyalahkan pasien ketika mengonsumsi makanan tertentu justru berpotensi membuat pasien semakin tertekan. Karena itu, pendekatan pendampingan perlu dilakukan dengan cara yang lebih positif. Keluarga dapat mengajak pasien menjalankan pola hidup sehat bersama, mendampingi ketika melakukan aktivitas fisik, mengingatkan jadwal kontrol, serta membantu pasien menjalani pengobatan tanpa membuatnya merasa terus diawasi.
Pendampingan juga menjadi penting ketika pasien mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan harapan. Misalnya, pasien mengatakan bahwa pengobatan tidak ada gunanya, merasa percuma berobat karena takut mengalami komplikasi, atau mulai mengabaikan pengobatan. Kondisi seperti ini perlu diperhatikan karena beban pengelolaan diabetes yang berlangsung lama dapat memengaruhi kondisi psikologis pasien. Diabetes juga diketahui dapat memberikan beban emosional berupa kekhawatiran terhadap kadar gula, pengobatan, komplikasi, pembatasan makanan, dan kewajiban melakukan aktivitas fisik secara rutin.
Marsaid menambahkan, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya bergantung pada obat. Pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stres, dan kepatuhan terhadap anjuran tenaga kesehatan perlu berjalan bersama. Pengobatan juga tidak seharusnya dihentikan hanya karena kadar gula darah sudah membaik tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Kondisi gula darah yang terkontrol perlu dipertahankan melalui pengelolaan diabetes secara menyeluruh.
Karena itu, keluarga diharapkan tidak berubah menjadi “polisi” bagi pasien diabetes yang hanya bertugas melarang dan mengawasi. “Pasien tidak sendiri, disupport oleh keluarga, maka jangan sampai menjadi polisi, membatasi semua keinginan pasien, tetapi cara merangkul pasien untuk sama-sama menjalankan program terapi,” ujar Marsaid. Pendampingan yang dilakukan bersama dapat membantu pasien merasa tidak sendirian dalam menghadapi penyakit sekaligus menjaga semangat untuk tetap menjalani pengobatan dan kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....