Indonesia Sehat Jiwa: Kasus Percobaan Bunuh Diri Bersifat Multifaktor

  • 24 Sep 2026 21:45 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Ketua Indonesia Sehat Jiwa, Sofia Ambarini, menyebut tindakan percobaan bunuh diri pada mahasiswa merupakan fenomena kompleks yang umumnya dipengaruhi berbagai faktor. Menurutnya, kondisi tersebut dapat terjadi akibat akumulasi berbagai tekanan hingga seseorang berada pada titik kritis.

Sofia menjelaskan, faktor yang memengaruhi dapat berupa tekanan akademik, masalah kesehatan mental, persoalan hubungan interpersonal, hingga kondisi finansial. Berbagai faktor tersebut dapat menumpuk dan saling berkaitan sebelum seseorang mengambil tindakan.

“Jadi untuk tindakan percobaan bunuh diri pada mahasiswa itu sebetulnya merupakan fenomena kompleks yang jarang dipicu oleh penyebab tunggal,” ujar Sofia, Kamis (24/9/2026). Ia menyebut terdapat akumulasi berbagai stresor atau tekanan yang dapat mendorong seseorang berada dalam kondisi kritis.

Menurut Sofia, tekanan akademik menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pada mahasiswa. Beban tugas, tuntutan pencapaian, hingga ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dapat menambah tekanan yang dirasakan.

Ia menambahkan, sebagian mahasiswa juga dapat menghadapi persoalan kesehatan mental yang belum tertangani. Kondisi seperti depresi atau gangguan kecemasan, menurutnya, dapat membuat seseorang merasa kewalahan dan kehilangan arah ketika tidak mendapatkan penanganan.

“Misalnya dia sebetulnya sudah mengalami depresi atau gangguan kecemasan ya memang, atau dia merasa ada overwhelming dan merasa putus asa,” ungkap Sofia. Selain persoalan kesehatan mental, masalah hubungan interpersonal dan isolasi sosial juga dapat menjadi faktor yang memengaruhi kondisi mahasiswa.

Faktor lain yang disebut Sofia adalah persoalan finansial dan perubahan dalam kehidupan mahasiswa. Kekhawatiran terkait biaya kuliah, kemungkinan tidak dapat melanjutkan pendidikan, hingga proses adaptasi terhadap lingkungan perguruan tinggi dapat menambah tekanan.

“Dan transisi kehidupan misalnya takut tidak bisa membayar biaya kuliah, atau dia ada adaptasi perubahan pola hidup dari misalnya ke perguruan tinggi nanti bagaimana kalau DO dan sebagainya,” jelasnya. Situasi tersebut dapat semakin berat ketika mahasiswa merasa tidak mampu memenuhi tuntutan yang dihadapi.

Sofia juga menyebut adanya kekhawatiran menjadi beban bagi orang lain, khususnya keluarga, sebagai salah satu faktor yang mungkin muncul. Ia menegaskan, percobaan bunuh diri pada mahasiswa perlu dipahami sebagai persoalan multifaktor, bukan semata-mata akibat satu peristiwa atau masalah tertentu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....