Jangan Asal FOMO, Kenali Kebutuhan Kulit sebelum Treatment

  • 21 Sep 2026 13:18 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Perkembangan tren kecantikan di media sosial membuat berbagai jenis treatment semakin mudah dikenal masyarakat. Kondisi tersebut terkadang mendorong seseorang mengikuti treatment tertentu karena takut ketinggalan tren atau yang dikenal dengan istilah fear of missing out (FOMO).

Dokter Irisda Nurkhayya atau dr. Ayya selaku owner Giya Aesthetic mengatakan, setiap orang memiliki kondisi dan kebutuhan kulit yang berbeda. Karena itu, treatment sebaiknya tidak dipilih hanya karena sedang viral di media sosial.

“Karena sekarang ini memang trennya banyak yang FOMO, tapi sebaiknya konsultasi dulu ke dokter, karena treatment yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok untuk kita. Jadi memang harus konsultasi dulu, dilihat kulitnya seperti apa, masalahnya apa, kemudian treatment yang bagus itu seperti apa,” ujar dr. Ayya, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, konsultasi sebelum melakukan treatment diperlukan agar jenis perawatan dapat disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan kulit masing-masing. Dengan demikian, masyarakat tidak sekadar mengikuti tren yang sedang populer tanpa mengetahui kebutuhan kulitnya.

Selain tren treatment, standar kecantikan yang berkembang melalui media sosial juga perlu disikapi secara bijak. Salah satunya adalah anggapan bahwa kulit putih menjadi ukuran utama kecantikan.

Dr. Ayya menjelaskan, warna kulit setiap orang dipengaruhi oleh faktor genetik sehingga tidak seharusnya warna kulit menjadi satu-satunya ukuran dalam menentukan kecantikan seseorang.

“Tujuan utama melakukan perawatan seharusnya bukan untuk mengubah warna kulit secara berlebihan, tetapi bagaimana kita menjaga kulit supaya tetap sehat dan terawat,” jelasnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan tren kecantikan di media sosial sebagai patokan utama dalam menentukan perawatan. Menurutnya, perawatan kulit sebaiknya berorientasi pada kesehatan kulit dan dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing.

Dengan menyikapi tren kecantikan secara bijak, masyarakat tetap dapat merawat diri tanpa harus terbebani oleh tuntutan mengikuti tren maupun standar kecantikan yang terus berubah di media sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....