UB Skrining Kesehatan Mental 17 Ribu Mahasiswa Baru

  • 05 Agt 2026 11:31 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Universitas Brawijaya (UB) mulai menerapkan skrining kesehatan mental secara menyeluruh bagi sekitar 17 ribu calon mahasiswa baru (camaba) tahun akademik 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya deteksi dini agar mahasiswa dapat beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan sekaligus memperoleh pendampingan apabila ditemukan indikasi gangguan psikologis.

Skrining dilaksanakan di Auditorium Pandhita Majapahit UB selama 3–7 Agustus 2026 dan menjadi kali pertama pemeriksaan kesehatan mental dilakukan secara serentak serta tatap muka sebagai bagian dari rangkaian penerimaan mahasiswa baru.

Koordinator Psikologi Pelaksanaan Skrining Kesehatan Mental UB, Dian Sudiono Putri mengatakan, pemeriksaan ini merupakan langkah preventif untuk memetakan kondisi psikologis mahasiswa sejak awal memasuki dunia perkuliahan.

"Sebelumnya skrining kesehatan mental memang pernah dilakukan, tetapi tidak secara serentak seperti sekarang. Tahun ini seluruh calon mahasiswa mengikuti pemeriksaan secara langsung di kampus sebagai bagian dari proses penerimaan mahasiswa baru," kata Dian, Rabu (5/8/2026).

Menurut Dian, kesehatan mental mahasiswa dapat berubah selama menjalani perkuliahan. Karena itu, pendeteksian sejak awal dinilai penting agar kampus dapat memberikan dukungan sebelum permasalahan berkembang menjadi lebih serius.

"Bisa saja kondisi mahasiswa di semester awal baik, tetapi menurun pada semester berikutnya. Kampus ingin menjadi garda terdepan dalam mendeteksi sekaligus menangani persoalan kesehatan mental mahasiswa sejak dini," ujarnya.

Pemeriksaan dilakukan menggunakan kuesioner yang disusun oleh Tim Psikolog Layanan Konseling Mahasiswa (LKM) UB. Seluruh proses berlangsung secara langsung di kampus untuk memastikan validitas pengisian, tanpa dipungut biaya.

Selama pelaksanaan, panitia mahasiswa turut mendampingi peserta sekaligus memberikan pemahaman bahwa seluruh jawaban bersifat rahasia dan tidak akan memengaruhi status akademik mahasiswa.

"Hasil skrining ini bukan untuk membeda-bedakan mahasiswa. Data tersebut menjadi dasar bagi kampus untuk memberikan pendampingan apabila memang diperlukan," jelas Dian.

Langkah UB mendapat respons positif dari calon mahasiswa. Ana, salah seorang peserta dari Fakultas Kedokteran menilai skrining kesehatan mental merupakan program yang penting di lingkungan perguruan tinggi.

"Semoga tidak berhenti pada tahap pemeriksaan saja, tetapi juga diikuti dengan intervensi atau layanan psikologis yang cepat bagi mahasiswa yang membutuhkan," kata dia.

Selain skrining kesehatan mental, calon mahasiswa baru juga mengikuti tes urine untuk mendeteksi penyalahgunaan narkotika serta menerima pembagian jas almamater. Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari persiapan awal sebelum mahasiswa memasuki kehidupan akademik di kampus.

Ke depan, Universitas Brawijaya berencana menjadikan skrining kesehatan mental sebagai program berkala yang dilaksanakan setiap semester atau enam bulan sekali. Melalui langkah tersebut, kampus berharap dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat, aman, dan mendukung keberhasilan akademik maupun kesejahteraan psikologis mahasiswa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....