Sering Bilang "Panic Attack"? Psikiater Jelaskan Bedanya dengan Cemas Biasa
- 29 Jul 2026 17:09 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Gangguan panik dapat dialami siapa saja, termasuk mereka yang terlihat ceria dan aktif di media sosial. Karena itu, masyarakat diimbau untuk mengenali gejalanya sejak dini agar dapat memperoleh penanganan yang tepat.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, dr. Ika Nurfarida, M.Sc., Sp.KJ, menjelaskan bahwa gangguan panik merupakan salah satu jenis gangguan kecemasan yang muncul secara tiba-tiba dengan gejala yang cukup berat.
"Gangguan panik itu adalah salah satu jenis gangguan kecemasan. Bedanya, gangguan panik bersifat episodik, muncul secara akut atau tiba-tiba, disertai gejala seperti jantung berdebar, keringat dingin, sesak napas, hingga rasa takut yang sangat hebat. Namun di luar serangan, penderitanya biasanya kembali seperti biasa," ujar dr. Ika dalam program Jaga Malam Mental Health RRI Pro 2 Malang, Selasa(28/07/2026).
Menurutnya, rasa cemas merupakan hal yang normal apabila muncul karena penyebab yang jelas dan akan mereda setelah masalah selesai. Namun, jika kecemasan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut sudah termasuk gangguan kecemasan yang memerlukan perhatian.
Dr. Ika mengatakan meningkatnya pembahasan mengenai panic attack di media sosial menunjukkan bahwa kesadaran generasi muda terhadap kesehatan mental semakin baik. Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah melakukan diagnosis sendiri.
"Gangguan mental, termasuk gangguan panik, bisa menyerang siapa saja. Orang yang terlihat ceria dan aktif di media sosial belum tentu benar-benar baik-baik saja," katanya.
Ia menjelaskan, gangguan panik dipengaruhi oleh faktor biologis maupun psikologis. Kebiasaan memendam masalah, menghindari penyelesaian konflik, serta stres berkepanjangan dapat meningkatkan hormon stres yang akhirnya memicu munculnya serangan panik.
Saat serangan panik terjadi, dr. Ika menyarankan agar seseorang berhenti sejenak, mengatur napas, dan menggunakan teknik grounding untuk mengembalikan fokus pada kondisi sekitar.
"Ketika serangan panik muncul, berhenti sejenak, atur napas, lalu gunakan teknik grounding dengan mengamati apa yang ada di sekitar agar kesadaran kembali fokus pada kondisi saat ini," jelasnya.
Untuk mengurangi risiko gangguan panik, ia menganjurkan masyarakat rutin berolahraga, meningkatkan kemampuan mengelola stres, menjalani aktivitas positif, menjaga pola tidur, serta membatasi konsumsi kafein apabila memiliki kecenderungan mengalami gangguan kecemasan.
Di akhir wawancara, dr. Ika mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu hingga kondisi menjadi berat sebelum mencari bantuan profesional.
"Jangan menunggu sampai kondisinya berat. Jika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan sulit diatasi sendiri, segera cari bantuan profesional agar mendapatkan penanganan yang tepat," pesannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....