Pola Makan Sehat Jadi Kunci Menekan Risiko Penyakit Jantung

  • 29 Jul 2026 17:56 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Mengatur pola makan menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mencegah penyakit jantung dan mengendalikan dislipidemia. Namun, masih banyak masyarakat yang menganggap semua makanan berlemak harus dihindari. Padahal, tubuh tetap membutuhkan lemak dalam jumlah dan jenis yang tepat. Hal tersebut disampaikan Ahli Gizi RS Universitas Brawijaya sekaligus Pengurus Yayasan Jantung Indonesia Cabang Malang Raya, Alif Rochmah, A.Md.Gz, dalam dialog kesehatan bersama RRI Malang.

Menurut Alif, tujuan utama pengaturan makan pada penderita dislipidemia bukan menghilangkan seluruh lemak, melainkan menurunkan asupan lemak jenuh dan meningkatkan konsumsi pangan yang membantu mengendalikan kolesterol. "Yang perlu dibatasi adalah lemak jenuh seperti jeroan, gajih (lemak), dan makanan tinggi lemak. Sebaliknya, kita perlu memperbanyak karbohidrat kompleks seperti gandum, oat, beras merah, maupun porang serta makanan nabati yang mengandung fitosterol," jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa serat larut air memiliki peran penting dalam menurunkan kadar kolesterol. Oat menjadi salah satu contoh pangan yang kaya serat larut karena mampu mengikat kolesterol di saluran pencernaan sehingga dikeluarkan bersama feses. "Lemak sebenarnya tetap dibutuhkan tubuh, tetapi jenisnya harus dipilih dengan tepat. Prinsipnya bukan menghindari seluruh lemak, melainkan memilih lemak yang lebih sehat dan mengurangi lemak jenuh," ujarnya pada Jumat (24/7/2026).

Dalam praktik sehari-hari, Alif menganjurkan masyarakat menerapkan konsep "Isi Piringku" sebagai panduan sederhana. Porsi makan sebaiknya didominasi sayur dan buah, disertai sumber protein yang cukup serta karbohidrat sesuai kebutuhan. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak hanya fokus pada jenis minyak goreng, tetapi juga memperhatikan jumlah penggunaan minyak serta cara mengolah makanan. "Minyak nabati pada dasarnya tidak mengandung kolesterol. Namun, jika penggunaannya berlebihan atau dipakai berulang kali, tentu tetap tidak baik bagi kesehatan," katanya.

Alif berharap masyarakat mulai membiasakan pola makan sehat sejak usia muda karena penyakit jantung kini tidak lagi hanya menyerang kelompok lanjut usia. Menurutnya, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan manfaat besar dalam menjaga kesehatan jantung. "Tidak harus berhenti makan enak. Yang paling penting adalah lebih bijak memilih makanan, mengatur porsinya, menjaga berat badan ideal, dan diimbangi aktivitas fisik secara rutin agar risiko penyakit jantung dapat ditekan," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....