Digital Detox Bukan Anti Teknologi, tapi Cara Menjaga Kesehatan

  • 22 Jul 2026 14:09 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Membatasi penggunaan gawai atau melakukan digital detox bukan berarti menolak perkembangan teknologi. Justru, langkah tersebut diperlukan agar penggunaan perangkat digital tetap sehat dan tidak berdampak pada kondisi psikologis seseorang, terutama di tengah tingginya intensitas masyarakat mengakses media sosial dan berbagai platform digital dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu disampaikan Mentor Castle Rock Indonesia, Laura Citra Widiyanti, S.Psi, dalam program Jaga Malam Mental Health Pro 2 RRI Malang bertema "Digital Detox: Kapan Harus Log Out untuk Kesehatan Mental". Menurutnya, kesadaran untuk mengatur waktu penggunaan gawai menjadi semakin penting karena aktivitas digital kini tidak hanya digunakan untuk bekerja dan belajar, tetapi juga mengisi waktu luang yang sering kali berlangsung tanpa disadari.

"Digital detox ini dilakukan sebenarnya bukan untuk menolak teknologi. Apalagi kita sekarang hidup di era perkembangan teknologi yang pesat. Tujuannya untuk mengurangi stres dan kecemasan yang ditimbulkan dari penggunaan perangkat digital," ujar Laura saat diwawancarai oleh host RRI Malang Irene Nathasya dalam Program Jaga Malam Mental Helath. Selasa ( 22/07/2026).

Laura menjelaskan, seseorang perlu mulai melakukan digital detox ketika tubuh dan pikiran sudah memberikan sinyal akibat penggunaan gawai yang berlebihan. Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah waktu yang habis hanya untuk scrolling media sosial hingga aktivitas penting, seperti bekerja, belajar, beristirahat, atau berinteraksi dengan keluarga, menjadi tertunda.

"Beberapa tanda kita harus segera digital detox adalah ketika tubuh dan pikiran memberikan sinyal. Misalnya terlalu banyak menggunakan media sosial sehingga hari yang seharusnya produktif justru terbengkalai karena scrolling," jelasnya.

Ia menambahkan, apabila kebiasaan tersebut terus dibiarkan, bukan hanya produktivitas yang menurun, tetapi juga dapat memicu kelelahan mental, sulit berkonsentrasi, meningkatnya kecemasan, hingga gangguan kualitas tidur. Karena itu, Laura mengimbau masyarakat mulai menerapkan kebiasaan sederhana, seperti membatasi durasi penggunaan media sosial, menetapkan waktu bebas gawai setiap hari, dan memanfaatkan waktu luang untuk aktivitas yang lebih bermakna sebagai upaya menjaga kesehatan mental di era digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....