Kenali Mata Kucing, Tanda Awal Retinoblastoma pada Anak

  • 24 Jul 2026 20:30 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Masyarakat perlu lebih waspada terhadap retinoblastoma, yaitu kanker mata yang paling sering menyerang bayi dan balita. Penyakit ini berasal dari retina, lapisan di bagian belakang mata yang berfungsi menangkap cahaya, dan dapat menyerang satu maupun kedua mata. Retinoblastoma memiliki peluang kesembuhan yang tinggi apabila terdeteksi sejak dini sehingga orang tua diharapkan mengenali gejala awal yang muncul pada anak.

Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), retinoblastoma umumnya terjadi akibat mutasi gen RB1 yang menyebabkan sel-sel retina tumbuh secara tidak terkendali. Penyakit ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu retinoblastoma herediter yang diturunkan dari orang tua dan lebih sering menyerang kedua mata, serta retinoblastoma non-herediter yang muncul akibat mutasi gen secara spontan setelah anak lahir dan biasanya hanya menyerang satu mata. Bagi anak yang memiliki riwayat keluarga dengan retinoblastoma, pemeriksaan mata dianjurkan dilakukan sejak bayi, bahkan pemeriksaan pertama sebaiknya dilakukan dalam satu bulan setelah kelahiran.

Salah satu tanda paling khas retinoblastoma adalah leukokoria atau yang sering disebut “mata kucing”, yaitu kondisi ketika pupil memantulkan cahaya putih, abu-abu, atau kekuningan saat terkena cahaya maupun lampu kilat kamera. Selain itu, anak juga dapat mengalami mata juling, mata merah atau bengkak tanpa sebab yang jelas, mata terasa nyeri hingga membuat anak rewel, kesulitan mengikuti gerakan benda, bola mata tampak menonjol, hingga penurunan penglihatan yang sering kali tidak disadari jika hanya satu mata yang terkena. Kemenkes menegaskan bahwa gejala-gejala tersebut tidak boleh diabaikan karena keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko penyebaran kanker.

Diketahui, retinoblastoma sebagai satu-satunya kanker pada anak yang dapat dideteksi secara sederhana sejak dini di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan lampu senter untuk melihat pantulan cahaya dari mata maupun melalui Tes Refleks Merah (Red Reflex Test) menggunakan oftalmoskop. Apabila pantulan merah tidak terlihat atau justru tampak putih, anak harus segera dirujuk ke dokter spesialis mata untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Deteksi dini terbukti meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus menurunkan angka kematian akibat retinoblastoma, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Penanganan retinoblastoma disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Pilihan terapi meliputi kemoterapi untuk mengecilkan maupun membasmi sel kanker, radioterapi pada kasus tertentu, hingga operasi pengangkatan bola mata (enukleasi) apabila tumor sudah terlalu besar atau penglihatan tidak lagi dapat diselamatkan. Setelah menjalani terapi utama, anak masih memerlukan pemantauan jangka panjang selama sedikitnya dua tahun guna memastikan tidak terjadi kekambuhan maupun penyebaran kanker. Oleh karena itu, dukungan psikososial bagi anak dan keluarga dinilai penting selama proses pengobatan agar kualitas hidup pasien tetap terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....