Cara Membaca Label Gizi agar Tidak Terkecoh Klaim Kemasan

  • 13 Jul 2026 11:39 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Membaca label gizi pada kemasan makanan dan minuman masih sering diabaikan oleh banyak orang. Padahal, informasi yang tertera pada bagian belakang kemasan menjadi kunci untuk mengetahui kandungan nutrisi yang benar-benar masuk ke dalam tubuh. Tidak sedikit konsumen yang lebih mudah tergiur oleh klaim pemasaran di bagian depan kemasan seperti "rendah lemak", "tinggi serat", atau "tanpa gula", tanpa mengecek informasi nilai gizi secara menyeluruh. Kebiasaan tersebut berpotensi membuat seseorang salah memilih produk yang sebenarnya belum tentu sesuai dengan kebutuhan kesehatannya.

Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), label gizi memuat berbagai informasi penting, mulai dari jumlah energi atau kalori, kandungan karbohidrat, protein, lemak, gula, natrium, hingga vitamin dan mineral. Dengan memahami informasi tersebut, masyarakat dapat lebih mudah mengontrol asupan gula, garam, dan lemak jenuh yang dikonsumsi setiap hari. Selain itu, label gizi juga membantu konsumen memilih produk yang memiliki kandungan serat dan protein lebih tinggi sehingga dapat mendukung kesehatan metabolik, menjaga berat badan, sekaligus mengurangi risiko berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.

Salah satu bagian yang paling sering disalahartikan adalah ukuran porsi atau serving size. Seluruh angka yang tercantum dalam label gizi dihitung berdasarkan satu porsi, bukan satu kemasan. Artinya, apabila seseorang mengonsumsi dua porsi sekaligus, maka jumlah kalori, karbohidrat, gula, maupun lemak yang masuk ke tubuh juga harus dikalikan dua. Kesalahan dalam memahami ukuran porsi inilah yang kerap membuat seseorang merasa sudah menjaga pola makan, padahal asupan energi hariannya justru melebihi kebutuhan.

Selain memperhatikan ukuran porsi dan jumlah kalori, konsumen juga dianjurkan memahami komposisi makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Karbohidrat total mencakup kandungan gula dan serat, di mana serat berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama. Protein dibutuhkan untuk mempertahankan massa otot, sedangkan konsumsi lemak, khususnya lemak jenuh dan lemak trans, sebaiknya dibatasi karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jantung. Tak kalah penting, kandungan gula tambahan dan natrium juga perlu diperhatikan karena konsumsi berlebihan dapat memicu obesitas, diabetes, hingga tekanan darah tinggi.

Cara praktis membaca label gizi sebenarnya cukup sederhana. Konsumen disarankan memulai dengan mengecek ukuran porsi, kemudian menghitung total kalori sesuai jumlah yang dikonsumsi. Setelah itu, perhatikan persentase Angka Kecukupan Gizi (%AKG), terutama pada kandungan gula, lemak, dan natrium. Sebagai acuan, nilai 5 persen atau kurang tergolong rendah, sedangkan 20 persen atau lebih tergolong tinggi. Jangan lupa melihat daftar bahan atau ingredients, karena urutan bahan disusun berdasarkan jumlah terbanyak. Apabila gula, sirup, atau tepung olahan berada di urutan teratas, berarti produk tersebut memiliki kandungan bahan olahan yang relatif tinggi.

Memahami label gizi merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas pola makan sehari-hari. Konsumen diharapkan tidak hanya terpaku pada klaim kesehatan yang tercantum di bagian depan kemasan, tetapi juga membiasakan diri membaca informasi nilai gizi dan daftar bahan sebelum membeli suatu produk. Dengan menjadi konsumen yang lebih cermat, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dalam memilih makanan, menjaga kesehatan keluarga, sekaligus menerapkan pola hidup sehat secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....