Perawatan Luka Jangan Lagi Gunakan Odol dan Rivanol Sembarangan
- 08 Jul 2026 09:20 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Kebiasaan mengoleskan odol, mentega, kopi, hingga ramuan tradisional pada luka ringan masih banyak ditemui di masyarakat. Padahal, cara tersebut justru dapat menghambat proses penyembuhan dan berisiko menimbulkan komplikasi apabila tidak disertai penanganan yang tepat.
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya, Dr. Ns. Dina Dewi Santika Lestari Ismail, M.Kep., mengatakan luka sekecil apa pun tidak boleh dianggap remeh. Luka sayat akibat pisau dapur, lecet karena terjatuh, luka tusuk, maupun luka bakar ringan tetap memerlukan penanganan yang benar agar tidak berkembang menjadi infeksi.
"Sering kali luka kecil dianggap biasa saja, cukup dicuci dengan air lalu ditutup plester. Padahal setiap jenis luka memiliki karakteristik dan cara penanganan yang berbeda," ujarnya saat menjadi narasumber dialog di RRI Malang, Senin (6/7/2026).
Menurut Dina, salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan masyarakat adalah mengoleskan odol pada luka bakar. Padahal, tindakan pertama yang dianjurkan adalah segera mengalirkan air bersih pada area yang mengalami luka bakar selama beberapa menit untuk membantu menurunkan suhu jaringan yang terkena panas.
Setelah itu, luka dapat dibersihkan menggunakan cairan steril seperti larutan NaCl atau cairan pembersih luka yang tersedia di apotek. Ia menjelaskan, penggunaan antiseptik juga perlu disesuaikan dengan kondisi luka agar tidak mengganggu proses regenerasi jaringan.
Dina juga menyoroti masih banyaknya masyarakat yang menggunakan rivanol sebagai cairan pembersih luka. Menurutnya, sejumlah penelitian menunjukkan rivanol memiliki efek toksik terhadap sel sehingga penggunaannya pada luka terbuka yang cukup luas tidak lagi menjadi pilihan utama dalam perawatan luka modern.
"Luka itu jangan dibiarkan terbuka hanya karena ingin cepat kering. Justru proses penyembuhan jaringan akan lebih baik apabila kelembapan luka tetap terjaga dengan balutan yang sesuai," jelasnya.
Ia menyarankan masyarakat menggunakan kasa steril atau balutan luka yang memang diperuntukkan bagi perawatan luka. Untuk luka yang tepinya masih menyatu, balutan sederhana sudah cukup membantu proses penyembuhan. Sementara luka yang lebih luas dapat menggunakan balutan modern seperti hidrokoloid sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Selain itu, Dina mengingatkan agar masyarakat segera mencari pertolongan medis apabila luka cukup dalam, luas, berada di area penting seperti wajah atau sendi, maupun menunjukkan tanda-tanda infeksi. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain nyeri yang semakin berat, kemerahan yang meluas, pembengkakan, rasa panas pada luka, hingga keluarnya darah atau cairan yang tidak normal.
Melalui edukasi yang tepat, masyarakat diharapkan tidak lagi mengandalkan mitos dalam merawat luka, melainkan menerapkan langkah-langkah yang sesuai dengan prinsip kesehatan sehingga proses penyembuhan dapat berlangsung lebih cepat dan aman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....