Kontaminasi Susu Formula Jadi Sorotan Keamanan Pangan
- 30 Jun 2026 13:17 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kontaminasi bakteri Bacillus cereus pada susu formula yang terjadi awal tahun ini menjadi perhatian setelah ditemukan toksin berbahaya dalam produk bayi di beberapa negara. Kasus tersebut mendorong pemerintah bersama produsen mengambil langkah cepat demi melindungi kesehatan bayi serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap produk pangan.
“Bakteri Bacillus cereus menghasilkan toksin bernama cereulide yang dapat mencemari pangan apabila proses produksi mengalami gangguan maupun kontaminasi bahan baku. Kontaminasi tersebut bukan berasal dari seluruh produk, melainkan hanya ditemukan pada batch tertentu sehingga dilakukan penarikan secara terbatas dan terukur,” ujar Laifa Fusvita, S.Si., M.Si. - Dosen Jurusan Analisis Farmasi dan Makanan Poltekkes Malang, Minggu (28/06/2026).
| Baca juga: Cara Mengatasi Bayi Kuning pada Bayi Baru |
Kasus penarikan produk bermula setelah temuan kontaminasi pada susu formula yang dipasarkan ke berbagai negara, termasuk Indonesia melalui jalur impor. Temuan tersebut segera ditindaklanjuti otoritas pengawas pangan dengan melakukan pemeriksaan laboratorium serta koordinasi bersama produsen untuk memastikan keamanan konsumen nasional.
“Hasil pengujian laboratorium menunjukkan kadar kontaminan masih berada di bawah batas yang dianggap membahayakan kesehatan masyarakat secara umum saat pemeriksaan. Meski demikian, langkah pencegahan tetap dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak muncul risiko kesehatan pada kelompok bayi yang rentan,” imbuhnya.
| Baca juga: Kenali Bayi Kuning pada Bayi Baru Lahir |
Produk yang ditarik hanya berasal dari dua nomor batch tertentu sehingga masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan seluruh produk sejenis beredar. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengawasan pangan dilakukan berdasarkan bukti ilmiah, bukan sekadar dugaan ataupun kekhawatiran tanpa dasar yang jelas.
“Hingga proses penarikan berlangsung, belum ditemukan laporan bayi mengalami gangguan kesehatan akibat mengonsumsi produk dari batch tersebut sebelumnya. Kondisi itu menunjukkan pentingnya sistem pengawasan yang mampu mendeteksi potensi bahaya sebelum menimbulkan dampak kesehatan lebih luas bagi Masyarakat,” ungkapnya.
Kontaminasi diduga berasal dari salah satu bahan baku sehingga tidak seluruh proses produksi mengalami permasalahan serupa pada setiap produk. Fakta tersebut menjadi pelajaran penting bahwa pengawasan mutu harus dilakukan sejak pemilihan bahan baku hingga distribusi produk kepada konsumen.
Kecepatan penarikan produk menjadi contoh penting penerapan prinsip kehati-hatian dalam menjaga keamanan pangan, khususnya produk untuk kebutuhan bayi sehari-hari. Kolaborasi pemerintah, laboratorium, serta produsen diperlukan agar setiap potensi kontaminasi dapat segera diidentifikasi sebelum membahayakan kesehatan masyarakat luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....