Tak Sekadar Produksi Infus, Kawasan Industri UMM Jadi Pusat Inovasi Kesehatan
- 12 Jun 2026 07:19 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Upaya memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional terus didorong berbagai pihak, termasuk Muhammadiyah. Melalui pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), persyarikatan ini berupaya mengambil peran lebih besar dalam memperkuat rantai pasok alat kesehatan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas tiga hektare di kawasan Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang tersebut menjadi bagian dari pengembangan kawasan industri terpadu yang berada di atas aset lahan UMM seluas 14 hektare. Kehadirannya diproyeksikan menjadi salah satu penopang kebutuhan cairan infus bagi rumah sakit Muhammadiyah dan masyarakat luas ketika mulai beroperasi pada 2027 mendatang.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pembangunan industri kesehatan ini merupakan bagian dari penguatan ekosistem socio-religious corporation yang selama ini dikembangkan Muhammadiyah.
Menurutnya, organisasi keagamaan tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan dan sosial, tetapi juga dapat menghadirkan solusi nyata melalui pengembangan usaha yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
“Ini bukan untuk Muhammadiyah semata, tetapi untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi keuntungan semata, melainkan bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” katanya, Kamis (12/6/2026).
Haedar menjelaskan bahwa keterlibatan Muhammadiyah dalam industri kesehatan merupakan wujud pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam ranah sosial dan ekonomi.
Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas tiga hektare di kawasan Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang tersebut menjadi bagian dari pengembangan kawasan industri terpadu yang berada di atas aset lahan UMM seluas 14 hektare. Kehadirannya diproyeksikan menjadi salah satu penopang kebutuhan cairan infus bagi rumah sakit Muhammadiyah dan masyarakat luas ketika mulai beroperasi pada 2027 mendatang.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pembangunan industri kesehatan ini merupakan bagian dari penguatan ekosistem socio-religious corporation yang selama ini dikembangkan Muhammadiyah.
Menurutnya, organisasi keagamaan tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan dan sosial, tetapi juga dapat menghadirkan solusi nyata melalui pengembangan usaha yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
“Ini bukan untuk Muhammadiyah semata, tetapi untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi keuntungan semata, melainkan bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” katanya, Kamis (12/6/2026).
Haedar menjelaskan bahwa keterlibatan Muhammadiyah dalam industri kesehatan merupakan wujud pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam ranah sosial dan ekonomi.
“Melalui berbagai usaha yang dijalankan secara profesional, Muhammadiyah berupaya menghadirkan layanan yang berkelanjutan sekaligus mendukung kepentingan publik,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menilai pembangunan pabrik infus tersebut tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri.
Menurutnya, kawasan industri yang sedang dikembangkan akan terintegrasi dengan Laboratorium Direktorat Saintek UMM sehingga dapat menjadi wadah bagi penguatan pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Kawasan ini akan menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu menghasilkan SDM yang relevan dengan kebutuhan sektor kesehatan,” jelasnya.
Lebih dari sekadar fasilitas produksi, kehadiran pabrik infus ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan sektor industri dalam memperkuat ekosistem kesehatan nasional.
Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menilai pembangunan pabrik infus tersebut tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri.
Menurutnya, kawasan industri yang sedang dikembangkan akan terintegrasi dengan Laboratorium Direktorat Saintek UMM sehingga dapat menjadi wadah bagi penguatan pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Kawasan ini akan menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu menghasilkan SDM yang relevan dengan kebutuhan sektor kesehatan,” jelasnya.
Lebih dari sekadar fasilitas produksi, kehadiran pabrik infus ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan sektor industri dalam memperkuat ekosistem kesehatan nasional.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan industri berbasis nilai sosial dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pendidikan, inovasi teknologi, dan pelayanan publik.
Jika beroperasi sesuai target pada 2027, pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia berpotensi menjadi salah satu tonggak penting dalam memperkuat ketahanan industri kesehatan nasional sekaligus memperluas kontribusi Muhammadiyah dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Jika beroperasi sesuai target pada 2027, pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia berpotensi menjadi salah satu tonggak penting dalam memperkuat ketahanan industri kesehatan nasional sekaligus memperluas kontribusi Muhammadiyah dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....