Down Syndrome Bukan Batas Berkarya

  • 06 Jun 2026 17:44 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, MALANG - Tidak sedikit orang tua yang merasa cemas ketika mengetahui anaknya memiliki kebutuhan khusus. Kekhawatiran tentang masa depan, pendidikan, hingga penerimaan lingkungan sering kali menjadi beban yang lebih berat dibanding kondisi anak itu sendiri. Namun, pengalaman Hj. Mafruha membesarkan putrinya yang menyandang Down Syndrome membuktikan bahwa setiap anak memiliki potensi yang bisa berkembang jika diberi kesempatan dan dukungan yang tepat.

Dalam dialog Pengarusutamaan Gender di RRI Malang Senin (11/5/2026), Hj. Mafruha menceritakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi bukanlah kondisi anaknya, melainkan stigma masyarakat. Saat itu masih banyak orang yang menganggap Down Syndrome sebagai kutukan atau aib keluarga. Namun ia memilih untuk menghadapi pandangan tersebut dengan edukasi dan keterbukaan.

"Banyak yang menganggap itu idiot, atau kayak kutukan. Tapi tetap kita terima sebisa mungkin. Saya sampaikan bahwa ini semua ada kelainan dari orang tua, kelainan kromosom. Kita tetap bersosialisasi dengan lingkungan, tidak isolasi diri," ujar Hj. Mafruha.

Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan orang tua adalah menerima kondisi anak dan tidak menjauhkannya dari lingkungan sosial. Sikap menutup diri justru dapat menghambat perkembangan anak. Karena itu, Yasmin tetap diajak berinteraksi, bersekolah, dan mengikuti berbagai kegiatan seperti anak-anak lainnya.

Perjalanan menemukan bakat Yasmin juga tidak berlangsung instan. Hj. Mafruha mengaku harus mencoba berbagai aktivitas sebelum akhirnya menemukan bidang yang benar-benar disukai putrinya. Berbagai perlengkapan kreativitas disiapkan di rumah, mulai dari alat meronce hingga perlengkapan menggambar

"Kita siapkan meronce, kok enggak tertarik. Saya sediakan warna, krayon, kok dia lama sampai berbulan-bulan kok suka. Begitu saya aplikasikan ke produk tas dan mug, dia kok tertarik, senang diapresiasi hasilnya. Dia bangga, 'Aku bisa menghasilkan seperti itu'," katanya.

Dari hobi menggambar dan mewarnai tersebut, karya Yasmin kemudian diaplikasikan ke berbagai produk kreatif. Pengalaman itu membuktikan bahwa anak berkebutuhan khusus juga mampu berkarya dan memiliki rasa percaya diri ketika hasil usahanya dihargai. Dialog tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk tumbuh, selama ada keluarga dan lingkungan yang mau memberikan ruang berkembang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....