Cegah Risiko Fatal, 370 Siswa SD di Tumpang Ikuti Skrining Jantung Rematik
- 01 Jun 2026 07:23 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Sebanyak 370 siswa sekolah dasar (SD) kelas 5 dan 6 di wilayah Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, menjalani pemeriksaan deteksi dini penyakit jantung rematik atau rheumatic heart disease (RHD).
Langkah ini diambil sebagai upaya memotong rantai risiko gangguan jantung kronis yang rentan menyerang anak-anak usia sekolah akibat infeksi bakteri yang tidak tertangani dengan tepat.
Pemeriksaan massal tahap pertama ini dipusatkan di dua lembaga pendidikan, yakni SD Negeri 1 Tumpang dan SD Negeri 3 Tumpang.
Kabupaten Malang dipilih oleh Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Pusat sebagai satu dari empat daerah di Indonesia yang menjadi lokus proyek percontohan (pilot project) program skrining nasional 2026 tersebut, berdampingan dengan Kabupaten Bekasi, Minahasa Utara, dan Tulang Bawang.
Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, menjelaskan bahwa pemeriksaan ini merupakan langkah intervensi medis yang krusial.
Melalui deteksi sejak dini, potensi kelainan katup jantung pada anak yang dipicu oleh demam rematik dapat segera diantisipasi sebelum memasuki fase kedaruratan yang lebih parah.
“Skrining dan deteksi dini menjadi langkah yang sangat penting agar anak-anak kita mendapatkan penanganan lebih cepat dan tepat,” kata Lathifah, Senin (1/6/2026).
Penyakit jantung rematik pada anak umumnya diawali dari infeksi saluran pernapasan atau radang tenggorokan akibat bakteri Streptococcus.
Jika diabaikan tanpa pengobatan antibiotik yang adekuat, infeksi tersebut dapat memicu reaksi autoimun yang merusak jaringan tubuh, termasuk katup jantung.
Oleh karena itu, sasaran skrining difokuskan pada anak usia sekolah dasar yang secara epidemiologi memiliki kerentanan tertinggi.
Melalui deteksi penapisan (screening) ini, anak-anak yang terindikasi memiliki gejala awal RHD akan langsung direkomendasikan untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan secara intensif.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga kualitas hidup generasi muda agar tidak mengalami hambatan tumbuh kembang atau disabilitas fisik di masa depan.
“Dengan kesehatan yang baik, mereka dapat belajar dengan optimal, tumbuh menjadi generasi yang cerdas, produktif, dan berdaya saing,” tutur Lathifah.
Guna mengoptimalkan keberhasilan program penekanan angka penyakit jantung anak ini, pemerintah daerah meminta sinergi dari lingkungan terkecil.
Para orang tua dan guru diimbau untuk meningkatkan kepekaan terhadap kondisi fisik anak, menjaga kebersihan lingkungan kelolaan, memastikan kecukupan gizi seimbang, serta tidak meremehkan gejala demam atau radang tenggorokan berulang pada anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....