Remaja Rentan NAPZA, Medsos dan Lingkungan Jadi Pemicu
- 13 Mei 2026 14:00 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kalangan remaja disebut menjadi kelompok paling rentan terpapar penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA), termasuk New Psychoactive Substances (NPS) yang kini marak beredar.
Psikiater Subspesialis Adiksi RS Radjiman Wediodiningrat Lawang, dr. Nur Aida, Sp.KJ(K), mengatakan rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan diterima dalam kelompok pertemanan menjadi faktor dominan yang mendorong remaja mencoba zat adiktif.
“Remaja itu rasa ingin tahunya besar dan ingin diterima di dalam kelompok. Akhirnya ikut-ikutan mencoba karena pengaruh lingkungan,” ujarnya dalam Dialog SANKSI Pro 1 RRI Malang, Rabu, (13/5/2026)
Menurutnya, media sosial turut mempercepat penyebaran informasi terkait penyalahgunaan zat.
“Filtering di media sosial masih kurang. Anak-anak bisa melihat konten penggunaan zat tanpa edukasi tentang efek samping dan bahayanya,” kata dr. Aida.
Ia menjelaskan, penyalahgunaan zat umumnya diawali dari rasa penasaran.
“Sama seperti rokok, awalnya coba-coba. Padahal pada NAPZA tidak ada istilah coba-coba karena sekali mencoba bisa berujung adiksi,” jelasnya.
Dalam praktiknya, pengguna kerap berpindah dari satu zat ke zat lain berdasarkan informasi sesama pengguna, bukan dari tenaga profesional.
Misalnya, pengguna opioid beralih ke kratom karena dipercaya dapat mengurangi efek putus zat. Sementara pengguna sabu memakai alprazolam atau clonazepam agar bisa tidur.
“Informasi itu didapat dari teman-teman mereka sendiri sehingga akhirnya justru menimbulkan ketergantungan baru,” terang dr. Aida.
Ia menyebut, komunitas pengguna biasanya sangat loyal dan aktif bertukar informasi, termasuk melalui media digital.
“Karena itu penting sekali memilih lingkungan pertemanan yang sehat dan tidak toksik,” imbuhnya.
Dr. Aida juga mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain prestasi sekolah menurun, pola tidur berubah, sering keluar malam, mudah marah, membantah, meminta uang berlebihan, hingga muncul perilaku mencuri.
“Kalau biasanya rajin lalu mendadak bolos, bangun terlambat, emosinya berubah, itu perlu diperhatikan,” katanya.
Ia menyarankan orang tua tidak langsung memarahi atau menghakimi anak ketika mencurigai adanya penyalahgunaan zat.
“Dekati perlahan dengan komunikasi emosional yang baik. Jangan langsung menuduh karena anak biasanya akan membantah,” ujarnya.
Selain itu, konsistensi pola asuh antara ayah dan ibu juga dinilai penting.
“Orang tua harus kompak. Jangan satu melarang, yang lain membiarkan,” tegasnya.
Dr. Aida menilai dukungan keluarga menjadi faktor utama dalam mencegah maupun membantu proses pemulihan pengguna NAPZA.
“Banyak kasus berawal dari masalah keluarga, broken home, tekanan ekonomi, atau masalah pendidikan. Karena itu hubungan keluarga harus diperkuat,” katanya.
Ia juga mengimbau remaja untuk mengisi waktu dengan aktivitas positif dan tidak takut kehilangan pertemanan.
“Yang penting bukan diterima semua kelompok, tetapi memiliki mental yang kuat dan lingkungan yang sehat,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....