Hemofilia Terjadi Karena Kekurangan Faktor Pembekuan Darah

  • 15 Apr 2026 15:46 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi dari RS Galeri Candra, dr Shinta Oktya W, dalam Dialog Interaktif di Pro 2 RRI Malang yang membahas tentang Hemofilia di Usia Muda: Kenali Gejala dan Pentingnya Deteksi Dini, menjelaskan bahwa hemofilia merupakan kelainan darah bawaan yang menyebabkan tubuh kesulitan menghentikan perdarahan. Kondisi ini terjadi karena kadar faktor pembekuan darah berada di bawah nilai normal sehingga proses pembekuan tidak berlangsung sebagaimana mestinya. Akibatnya, ketika penderita mengalami luka, darah akan keluar lebih lama meski sudah dilakukan penekanan pada area yang terluka.

Menurut dr Shinta, proses pembekuan darah pada tubuh manusia melibatkan berbagai faktor pembekuan yang bekerja bersama membentuk lapisan penutup luka berupa jaringan seperti jaring-jaring. Pada penderita hemofilia, salah satu faktor tersebut jumlahnya tidak mencukupi. “Proses pembekuan darah membutuhkan kerja sama sel darah dan faktor pembekuan untuk membentuk semacam plak atau jaring penutup luka. Pada hemofilia, faktor tersebut tidak mencukupi sehingga proses penghentian perdarahan menjadi lebih lama,” ujarnya, Kamis (15/4/2026).

Ia menambahkan bahwa hemofilia terbagi menjadi dua jenis utama, yakni hemofilia A dan hemofilia B. Perbedaannya terletak pada jenis faktor pembekuan darah yang kurang dalam tubuh penderita. Hemofilia A terjadi karena kekurangan faktor pembekuan VIII, sedangkan hemofilia B disebabkan kekurangan faktor IX. Kedua faktor ini memiliki peran penting dalam mekanisme pembekuan darah sehingga apabila kadarnya rendah, tubuh tidak mampu menghentikan perdarahan secara optimal.

Lebih lanjut dr Shinta menegaskan bahwa hemofilia merupakan penyakit yang umumnya diturunkan secara genetik atau herediter. Penyakit ini bahkan dikenal sebagai “penyakit kerajaan” karena pernah ditemukan pada garis keturunan Queen Victoria. Meski demikian, dalam beberapa kasus hemofilia juga dapat muncul tanpa riwayat keluarga. “Sebagian besar kasus memang diturunkan, namun ada juga yang didapat. Karena itu penting bagi keluarga untuk mengenali riwayat kesehatan agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” jelasnya.

(Venta Oktania)

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....