Cara Mengatasi Bayi Kuning pada Bayi Baru

  • 08 Apr 2026 14:53 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Bayi kuning atau jaundice merupakan kondisi yang sering dialami bayi baru lahir. Pada sebagian besar kasus, kondisi ini tidak berbahaya dan dapat membaik dengan sendirinya apabila termasuk penyakit kuning fisiologis.

Staf Divisi Bedah Anak KSM Bedah RSUD Dr. Saiful Anwar Malang, dr. Sinung Wikanadi, SpB., SpBA, dalam dialog Malang Siang Ini menjelaskan bahwa bayi kuning yang bersifat fisiologis umumnya tidak memerlukan penanganan khusus.

“Bayi kuning yang bersifat fisiologis biasanya akan hilang sendiri dalam waktu sekitar 10 sampai 14 hari. Hal ini terjadi karena fungsi hati bayi yang masih dalam proses pematangan,” jelas dr. Sinung, Rabu (8/4/2026)

Namun demikian, ia menegaskan bahwa bayi kuning tetap perlu dipantau karena pada kondisi tertentu kadar bilirubin dapat meningkat dengan cepat dan memerlukan penanganan medis.

“Apabila peningkatan bilirubin terjadi sangat cepat atau disebabkan oleh penyakit tertentu, maka bayi harus segera mendapatkan penanganan dari dokter agar tidak menimbulkan komplikasi,” ujarnya.

Beberapa tanda bahaya pada bayi kuning yang perlu diwaspadai antara lain bayi tampak sangat lemas, malas menyusu, mengalami kantuk yang sangat dalam, hingga muncul kejang. Jika gejala tersebut muncul, orang tua dianjurkan segera membawa bayi ke instalasi gawat darurat untuk mendapatkan penanganan.

Penanganan medis pada bayi dengan kadar bilirubin tinggi umumnya dilakukan melalui dua metode utama. Pertama adalah fototerapi, yaitu terapi menggunakan cahaya khusus untuk membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah diurai oleh hati.

“Fototerapi dilakukan dengan cahaya khusus yang membantu memecah bilirubin sehingga lebih mudah dikeluarkan dari tubuh bayi,” kata dr. Sinung.

Metode lainnya adalah exchange transfusion atau transfusi tukar. Prosedur ini dilakukan dengan mengganti sebagian darah bayi melalui kateter dengan darah donor yang sesuai untuk menurunkan kadar bilirubin yang sangat tinggi.

Sementara itu, pada bayi kuning yang bersifat fisiologis, orang tua dapat membantu menurunkan kadar bilirubin dengan memastikan bayi mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.

Bayi yang mendapatkan ASI dianjurkan menyusu sekitar 8 hingga 12 kali dalam sehari selama beberapa hari pertama kehidupannya. Sedangkan bayi yang mengonsumsi susu formula perlu mendapatkan sekitar 30 hingga 60 mililiter susu setiap dua hingga tiga jam pada minggu pertama kelahiran.

Asupan cairan yang cukup membantu tubuh bayi mengeluarkan kelebihan bilirubin melalui urin dan tinja. Selain itu, orang tua juga dianjurkan memantau kondisi bayi secara berkala dengan memperhatikan perubahan warna pada kulit dan bagian putih mata.

Pemeriksaan sederhana ini dapat dilakukan dua kali sehari untuk memastikan kondisi bayi membaik. Apabila warna kuning tidak berkurang setelah 14 hari, bayi sebaiknya segera diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut guna mencegah risiko komplikasi serius seperti kerusakan otak permanen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....