Autisme Tidak Bisa Dicegah, Kenali Gejala sejak Dini

  • 02 Apr 2026 09:11 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang biasanya mulai terlihat pada dua tahun pertama kehidupan anak. Kondisi ini memengaruhi kemampuan interaksi sosial, komunikasi, serta perilaku. Autisme bersifat bawaan sejak lahir dan hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab utamanya, sehingga tidak dapat dicegah.

Data dari World Health Organization menyebutkan bahwa prevalensi autisme di dunia mencapai sekitar 0,76 persen. Gangguan ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio sekitar tiga banding satu. Para ahli menyebutkan bahwa faktor genetik diduga memiliki peran besar dalam terjadinya autisme, meskipun sejumlah faktor lain juga dapat meningkatkan risiko.

Dalam sistem klasifikasi lama seperti International Classification of Diseases 10 dan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV, autisme termasuk dalam kelompok gangguan perkembangan menyeluruh atau pervasive developmental disorder. Namun pada pembaruan klasifikasi terbaru yaitu International Classification of Diseases 11 dan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V, berbagai kondisi tersebut digabung menjadi satu spektrum yang dikenal sebagai Autism Spectrum Disorder.

Gejala autisme umumnya dapat dikenali sejak anak berusia satu hingga dua tahun. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain keterbatasan minat, perilaku yang dilakukan secara berulang, kesulitan berkomunikasi, kurangnya kontak mata, serta kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Anak dengan autisme juga sering tampak memiliki dunia sendiri dan kurang merespons situasi di sekitarnya.

Untuk memastikan kondisi tersebut, pemeriksaan biasanya dilakukan oleh dokter anak atau psikiater melalui beberapa tahap. Pemeriksaan dapat meliputi evaluasi fisik dan tumbuh kembang, pemeriksaan perilaku, hingga pemeriksaan alergi apabila diperlukan. Proses ini bertujuan mengetahui apakah terdapat gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan sosial, komunikasi, maupun perilaku anak.

Meski autisme tidak dapat disembuhkan, penanganan sejak dini dapat membantu meningkatkan kemampuan anak. Terapi biasanya melibatkan tim multidisipliner yang terdiri dari dokter anak, psikiater, psikolog klinis, ahli terapi okupasi, hingga terapis wicara. Berbagai terapi tersebut bertujuan membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi, keterampilan motorik, serta meningkatkan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.

Peran orang tua juga menjadi kunci penting dalam mendampingi anak dengan autisme. Orang tua dianjurkan menerima kondisi anak dengan sikap terbuka, menghindari informasi yang belum terbukti secara medis, serta rutin menjalani terapi dan pemeriksaan kesehatan. Dengan dukungan yang tepat, anak dengan autisme tetap dapat berkembang, belajar berkomunikasi, dan menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....