Tingkatkan Kepatuhan Minum Obat TBC dengan Inovasi “Stiker Ketupat”
- 27 Feb 2026 08:57 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Puskesmas Kedungkandang Kota Malang menghadirkan inovasi bertajuk “Stiker Ketupat (Keluarga Pantau Minum Obat TBC)” sebagai upaya meningkatkan keberhasilan pengobatan Tuberkulosis (TBC). Inovasi ini berupa media visual berbentuk stiker checklist yang melibatkan keluarga dalam memantau kepatuhan pasien saat menjalani terapi.
Kepala Puskesmas Kedungkandang, dr. Kholida Nur’aini mengatakan bahwa keberhasilan pengobatan TBC tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat, tetapi juga pada kedisiplinan pasien menjalani terapi minimal enam bulan tanpa terputus.
“Keluarga memiliki peran strategis dalam mengingatkan dan mendampingi pasien. Melalui Stiker Ketupat, kami menghadirkan alat sederhana namun efektif untuk memperkuat pengawasan minum obat di rumah,” katanya, Jumat (27/2/2026).
Stiker Ketupat memuat tabel checklist harian yang ditempel di rumah pasien. Setiap kali pasien mengonsumsi obat, anggota keluarga memberikan tanda centang sebagai bukti. Petugas kesehatan kemudian melakukan pemantauan melalui kunjungan atau evaluasi berkala.
Sejak diterapkan, inovasi ini menunjukkan hasil positif, antara lain meningkatnya kepatuhan minum obat serta menurunnya angka pasien yang putus berobat. Keterlibatan keluarga dalam proses pengobatan pun menjadi lebih aktif dan terstruktur.
Puskesmas Kedungkandang berharap langkah ini dapat mendukung percepatan eliminasi TBC dan meningkatkan keberhasilan pengobatan di Kota Malang, sejalan dengan upaya mewujudkan masyarakat yang sehat dan berdaya.
Program tersebut dilatarbelakangi masih tingginya kasus TBC serta ditemukannya pasien yang mengalami loss to follow up (LTFU), yakni tidak menyelesaikan pengobatan sesuai standar. Berdasarkan evaluasi internal tahun 2024, dukungan keluarga dinilai berperan signifikan dalam menunjang keberhasilan terapi pasien TBC.
Kepala Puskesmas Kedungkandang, dr. Kholida Nur’aini mengatakan bahwa keberhasilan pengobatan TBC tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat, tetapi juga pada kedisiplinan pasien menjalani terapi minimal enam bulan tanpa terputus.
“Keluarga memiliki peran strategis dalam mengingatkan dan mendampingi pasien. Melalui Stiker Ketupat, kami menghadirkan alat sederhana namun efektif untuk memperkuat pengawasan minum obat di rumah,” katanya, Jumat (27/2/2026).
Stiker Ketupat memuat tabel checklist harian yang ditempel di rumah pasien. Setiap kali pasien mengonsumsi obat, anggota keluarga memberikan tanda centang sebagai bukti. Petugas kesehatan kemudian melakukan pemantauan melalui kunjungan atau evaluasi berkala.
“Tahapan pelaksanaan inovasi ini meliputi identifikasi pasien TBC, pencatatan dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), pencetakan dan pemasangan stiker di rumah pasien, pengisian checklist oleh keluarga, hingga pemantauan rutin oleh petugas,” tuturnya.
Sejak diterapkan, inovasi ini menunjukkan hasil positif, antara lain meningkatnya kepatuhan minum obat serta menurunnya angka pasien yang putus berobat. Keterlibatan keluarga dalam proses pengobatan pun menjadi lebih aktif dan terstruktur.
“Dengan pendekatan partisipatif dan biaya relatif rendah, Stiker Ketupat berpotensi direplikasi di fasilitas kesehatan lain sebagai bentuk inovasi pelayanan berbasis pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.
Puskesmas Kedungkandang berharap langkah ini dapat mendukung percepatan eliminasi TBC dan meningkatkan keberhasilan pengobatan di Kota Malang, sejalan dengan upaya mewujudkan masyarakat yang sehat dan berdaya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....