Bau Mulut Jadi Keluhan Tertinggi saat Puasa

  • 24 Feb 2026 23:12 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Menjelang Ramadan, tantangan umat Muslim bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga kepercayaan diri saat berinteraksi sosial. Sebuah survei dari Honestdocs terhadap 11.740 responden mengungkapkan bahwa bau mulut atau halitosis menjadi keluhan kesehatan tertinggi saat puasa, mencapai 25 persen. Angka ini melampaui keluhan lain seperti asam lambung 17,8 persen, dehidrasi 17 persen, dan sakit kepala 13,3 persen.

Secara medis, bau mulut saat puasa terjadi karena produksi saliva atau air liur menurun hingga 10 persen. Padahal, saliva berfungsi sebagai pembersih alami yang membantu menekan pertumbuhan bakteri di rongga mulut. Ketika alirannya berkurang, bakteri berkembang lebih cepat dan memicu bau tidak sedap. Kondisi mulut yang kering juga memperparah situasi, terutama jika kebersihan gigi dan lidah tidak terjaga.

Mengatasi bau mulut saat puasa sebenarnya bisa dilakukan dengan langkah sederhana. Menjaga hidrasi menjadi kunci utama, yakni dengan mengonsumsi 2–3 liter air putih antara waktu berbuka dan sahur. Selain itu, menyikat gigi dan lidah setelah sahur serta sebelum tidur sangat dianjurkan karena bakteri kerap menumpuk di permukaan lidah. Makanan berbau tajam seperti bawang putih dan bawang bombay juga sebaiknya dibatasi saat sahur.

Penggunaan obat kumur alami bisa menjadi alternatif yang aman. Air garam, rebusan daun sirih, cengkeh, kayu manis, hingga teh hijau memiliki sifat antibakteri yang membantu mengurangi bau mulut tanpa menyebabkan mulut kering. Namun, hindari obat kumur komersial dengan kandungan alkohol tinggi karena dapat memperparah kondisi mulut kering. Dengan perawatan yang tepat, puasa tetap bisa dijalani dengan nyaman dan penuh percaya diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....