Mengenal Baby Blues Syndrome pada Bumil
- 18 Feb 2026 15:13 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Peristiwa kehamilan dan persalinan merupakan peristiwa yang paling mengesankan untuk seorang wanita, sayangnya tidak sedikit para ibu yang mengalami perubahan mood. Perubahan suasana hati pada ibu hamil dikenal dengan baby blues syndrome.
Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan kasus baby blues yang tertinggi di Asia. Baby blues syndrome merupakan keadaan depresi yang bersifat sementara dan biasa dialami oleh kebanyakan ibu karena adanya perubahan hormon ditambah dengan kelelahan fisik dan tekanan emosional saat mengurus bayi. Gejala baby blues yang kerap muncul diantaranya merasa sedih, menangis tak terkendali, mudah marah, merasa cemas, merasa lebih emosional, sulit tidur, mudah lupa, dan selera makan menurun.
Baby blues sebenarnya tidak berbahaya dan bersifat sementara jika penangananya secara benar. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) sekitar 70-80 % ibu mengalami baby blues dalam 2 minggu pertama pasca persalinan. Namun, jika gejala ini berlangsung lebih dari dua minggu, memburuk, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi, baby blues bisa berkembang menjadi depresi pasca melahirkan (postpartum depression).
Cara Mengatasi Baby Blues Syndrome:
“Dukungan support dari keluarga besar terutama pasangan sangat penting, seorang ibu wajar dalam mengalami baby blues karena merupakan ibu baru” kata psikolog Ibu Vera Itabiliana Hadiwidjoyo dikutip dari Ruang Kota, Rabu (18/2/2026).
Beberapa cara mengatasinya dengan memprioritaskan istirahat dan tidur, komunikasikan emosional, meluangkan waktu untuk diri sendiri (Me Time), pola makan yang sehat dan olahraga ringan serta berpikir positif.
Dukungan dari pasangan, keluarga, dan teman, ditambah komunikasi terbuka dengan tenaga kesehatan, bisa membantu ibu pulih lebih cepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....