Perubahan Iklim Ancam Kesehatan dan Kognitif Anak
- 15 Feb 2026 15:21 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan anak. Kepala Divisi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, dr. Ariani, MKes, SpA(K), menegaskan bahwa anak merupakan kelompok paling rentan.
Universitas Brawijaya dan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang mencatat peningkatan kasus penyakit terkait lingkungan dalam beberapa tahun terakhir.
“Perubahan suhu, curah hujan yang tidak menentu, hingga kualitas udara buruk menyebabkan peningkatan ISPA, bronkitis, pneumonia, bahkan diare dan DBD pada anak,” ujar dr. Ariani saat menjadi narasumber dalam Program Dialog Beranda Asta Cita PRO 1 RRI Malang, Minggu, 15 Februari 2026.
Polusi udara partikulat dari bahan bakar fosil dapat menumpuk di saluran pernapasan atas anak. Paparan kronis bahkan bisa masuk ke aliran darah hingga otak.
“Logam berat dan partikel halus yang terhirup bisa menurunkan skor IQ, memicu gangguan perhatian, dan gangguan perkembangan saraf. Periode paling rentan adalah tiga bulan sebelum lahir hingga usia tiga tahun,” tegasnya.
Selain itu, kekeringan berkepanjangan berisiko menyebabkan dehidrasi dan kekurangan gizi. Anak yang sering sakit akan sulit mengalami kenaikan berat badan, meningkatkan risiko malnutrisi dan stunting.
“Gangguan akibat perubahan iklim sering bersifat kumulatif, bukan hanya fisik tetapi juga mental. Trauma akibat bencana bisa berdampak jangka panjang,” tambahnya.
Ia mengimbau orang tua untuk lebih peka terhadap kualitas lingkungan tempat tinggal, memperhatikan ventilasi rumah, menghindari merokok di dalam rumah, memastikan imunisasi lengkap, serta memenuhi kebutuhan gizi seimbang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....