Kurangnya Dukungan Keluarga Picu Krisis Kesehatan Mental
- 24 Jan 2026 14:04 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kurangnya dukungan keluarga dinilai menjadi pemicu utama krisis kesehatan mental di masyarakat. Psikolog Dian Fitriaswaty menyebut kondisi ini berpotensi berujung pada depresi dan bunuh diri.
Menurut Dian, keluarga seharusnya menjadi sistem pendukung terkuat bagi individu. Namun ia menilai krisis keluarga kini justru menjadi fenomena mayoritas di Indonesia.
Tekanan ekonomi dan tuntutan pekerjaan disebut sering memicu distress berkepanjangan. “Distress adalah stres buruk yang menahun tanpa solusi,” ujar Dian, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan distress muncul akibat mindset terdistorsi dan keyakinan irasional. Kondisi itu diperparah karena tidak adanya bantuan atau arahan yang tepat.
Dian menyebut individu yang mengalami distress cenderung menarik diri dari lingkungan. Gejalanya meliputi enggan bertemu orang dan memilih mengurung diri di rumah.
Perilaku menarik diri ini dinilai memperparah kondisi psikologis seseorang. “Distress bisa berkembang menjadi depresi hingga muncul pikiran bunuh diri,” katanya.
Ia menegaskan dukungan keluarga inti sangat dibutuhkan dalam kondisi tersebut. Orang tua harmonis dan saudara suportif menjadi faktor pelindung utama kesehatan mental.
Kurangnya support system disebut sebagai faktor rentan pemicu tindakan bunuh diri. Keluarga yang kurang peduli membuat individu kehilangan rasa aman dan dukungan emosional.
Dian menilai masalah hidup apapun dapat dihadapi dengan dukungan yang baik. Masalah finansial, akademik, maupun kesehatan dinilai bisa diatasi bersama.
“Support system yang kuat menciptakan ketenangan dan kedamaian,” tutup Dian. Ia mengajak keluarga lebih peduli terhadap kesehatan mental anggota keluarganya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....