Digital Farming, Solusi Tercapainya & Ketahanan Pangan dan Kestabilan Harga

  • 24 Agt 2024 19:55 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Saat ini, digitalisasi sektor pertanian sudah menjadi kebutuhan. Para petani dituntut kian melek teknologi informasi yang bisa menunjang sekaligus memudahkan mereka dalam bekerja.

Hal itulah yang mendasari diselenggarakannya talkshow tentang Digital Farming dalam acara BI Youth-iful Festival 2024 di Malang Town Square (Matos) yang menghadirkan narasumber Heri Suntoro, S.P, Kepala Bidang Holtikutura, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Malang dan Habib Thabrani, Founder Eduria, Jumat (24/08/2024)

"Perlu diketahui bahwa Kabupaten Malang merupakan daerah pertanian penghasil holtikultura, dengan komoditas terbesar pada produk kentang,” ujar Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Malang, Heri Suntoro, S.P.

Digital Farming merupakan salah satu upaya Bank Indonesia dalam pengembangan UMKM di bidang klaster pangan melalui pemberian bantuan teknologi yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi biaya, peningkatan daya saing, dan perluasan pasar UMKM.

"Pemerintah Kabupaten Malang sangat mendukung berbagai upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan stakeholder terkait, harapannya dengan bantuan otomasi IoT (internet of things) bisa menghasilkan output yang optimal," lanjutnya

Sementara itu, Habib Thabrani, Founder Eduria mengatakan kondisi alam Indonesia sebagai negara agraris sangat cocok untuk kegiatan tanam-menanam, namun masih banyak masyarakat, terutama di perkotaan, yang belum tergerak untuk mendalami hobi di bidang tumbuh-tumbuhan.

"Kami dari Eduria atau edukasi dengan ceria berharap bisa mendorong minat masyarakat terhadap kegiatan bertanam. Eduria siap membagikan edukasi pertanian yang berkelanjutan," ungkapnya.

Menurut Habib, pengembangan digitalisasi dan manajemen usaha tani merupakan prasyarat kunci bagi tercapainya ketahanan pangan dan kestabilan harga

"Pada implementasi digital farming, petani dapat menghemat penggunaan sumber daya (Air, pupuk, dan saprodi). Itu terjadi karena petani menggunakan data yang diperoleh dari perangkat teknologi digital IoT untuk memenuhi kebutuhan tanaman secara akurat. Sehingga, petani tidak lagi menggunakan intuisi semata dalam melakukan budidaya," tururnya

Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan dalam mengimplementasikan digital farming, diantaranya konektivitas yang belum dapat dijangkau sinyal BTS jaringan telekomunikasi, juga literasi digital petani yang masih rendah.

“Perlu ada pendampingan intensif pada penerapan digital farming. Juga perlu sinergi lintas lembaga untuk memajukan sektor pertanian,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....