Mengenal AAC, Codec Yang Digunakan Radio Digital DAB+
- 20 Jun 2024 10:26 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Berbeda dengan teknologi radio FM yang selama ini dikenal masyarakat luas, di radio berbasis DAB+, sinyal audio dari penyiar dirubah terlebih dahulu menjadi kode digital menggunakan standar proses High Efficiency Advanced Audio Coding V2 ( HE-AAC V2 ).
Untuk keperluan siaran radio, sinyal audio analog dirubah menjadi kode digital dengan kecepatan pengambilan sampel hingga 96KHz, sehingga, menurut theorema Nyquist, frekuensi audio yang bisa direproduksi ulang bisa mencapai 48KHz, lebih lebar dari jangkauan frekuensi yang dapat diterima manusia yang umumnya hanya sampai 20KHz saja.
Dibanding versi sebelumnya, HE-AAC v2 menggunakan compression yang disebut Parametric Stereo untuk memadatkan data yang akan dikirim dari pemancar ke penerima radio dengan merubah audio stereo menjadi monaural disertai informasi tambahan yang diperlukan untuk reproduksi ulang audio stereo di sisi radio penerima.
Dengan adanya pemadatan parametric stereo, untuk audio monaural tidak terlalu tinggi efisiensinya, efisiensi akan meningkat jika digunakan untuk memadatkan sinyal audio stereo maupun surround, AAC V2 tidak hanya mendukung surround 5.1 channel saja tapi hingga 48 channel.
Selanjutnya, bandwidth yang awalnya ditempati sinyal audio stereo atau surround, setelah melalui proses pemadatan dapat digunakan untuk menyalurkan komunikasi data kecepatan rendah untuk mengirimkan layanan tambahan dari stasiun radio kepada pendengar seperti judul dan lirik lagu, teks berita, jadwal acara, hingga gambar.
Berdasarkan uji dengar, untuk kualitas suara AAC V2 terdengar lebih jelas dan detail bila dibanding dengan format pemadatan audio yang telah lama dikenal luas, MP3, hal ini lebih terasa untuk bitrate rendah, misal bitrate dibawah 128Kbps, AAC V2 terdengar lebih jelas. Semakin tinggi bitrate,semakin minim perbedaan kualitas suara antara AAC V2 dengan MP3.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....