Mahasiswa UMM Olah Limbah Kulit Kopi Jadi Kerupuk hingga Biobriket

  • 06 Okt 2026 08:50 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Limbah kulit kopi di Desa Sumbertempur, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk, dikembangkan menjadi sejumlah produk bernilai guna oleh mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Melalui program CascaLoop, mahasiswa mengolah kulit kopi menjadi empat produk, yakni biobriket, pengharum ruangan, kerupuk, dan teh cascara.

Koordinator Tim, Fakhintan Ilza Karengga mengatakan, inovasi tersebut berawal dari observasi terhadap pemanfaatan kulit kopi di Desa Sumbertempur yang masih terbatas.

“Awalnya kami melakukan observasi untuk melihat persoalan limbah kulit kopi di Desa Sumbertempur. Dari situ kami menemukan bahwa pemanfaatannya masih terbatas sebagai pakan ternak dan pupuk,” katanya, Selasa (6/10/2026).

Menurut Fakhintan, tim kemudian mencoba mengolah limbah tersebut menjadi produk yang memiliki fungsi berbeda sekaligus berpotensi memberikan nilai ekonomi lebih tinggi bagi masyarakat.

Pengembangan produk dilakukan sepanjang Agustus setelah tim melakukan observasi lapangan dan berkoordinasi dengan pemerintah desa. Hasil uji coba kemudian diperkenalkan melalui Workshop Inovasi “Katalis Kopi” di Aula Balai Desa Sumbertempur.

“Untuk biobriket, kulit kopi diproses melalui karbonisasi hingga menjadi arang, kemudian dihaluskan dan dicampur bahan perekat sebelum dicetak dan dikeringkan,” ujarnya.

Kulit kopi juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar pengharum ruangan melalui proses ekstraksi. Sementara untuk produk pangan, kulit kopi dikeringkan dan dihaluskan menjadi tepung yang kemudian diolah menjadi kerupuk.

“Produk lainnya berupa teh celup cascara dibuat dari kulit kopi yang telah dibersihkan dan dikeringkan, kemudian dikemas menggunakan kantong teh berbahan ramah lingkungan,” ungkapnya.

Kepala Desa Sumbertempur, Edi Sucipto menyambut baik inovasi tersebut. Menurutnya, pemanfaatan kulit kopi menjadi produk olahan dapat menjadi alternatif dalam mengurangi limbah sekaligus membuka peluang pengembangan produk lokal.

“Selama ini kulit kopi memang lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau pupuk. Melalui kegiatan ini, kami mendapat wawasan bahwa limbah tersebut masih bisa diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....