Menag RI: Mahasiswa Jangan Hanya Cari Ilmu, Carilah Keberkahan
- 02 Okt 2026 12:36 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengingatkan mahasiswa baru Universitas Islam Malang (Unisma) agar tidak menjadikan pendidikan semata-mata untuk mengejar kepentingan duniawi. Menurutnya, mahasiswa perlu menata niat agar ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan penguatan kepada mahasiswa dalam rangkaian Orientasi Studi dan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (Oshika Maba) Pascasarjana dan RPL di Unisma, Jumat (2/10/2026).
Nasaruddin mengatakan, Unisma memiliki kekhasan sebagai perguruan tinggi yang lahir dari lingkungan ulama dan Nahdlatul Ulama. Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengejar pengetahuan akademik, tetapi juga nilai kebermanfaatan dan keberkahan selama menjalani pendidikan.
“Kalau masuk di Unisma, niatnya harus luhur, bukan tujuannya untuk duniawi. Tetapi sesuai dengan motonya, Anfa'uhum linnas,” tutur Nasaruddin.
Ia mengajak mahasiswa memaknai pendidikan sebagai proses untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Menurutnya, semangat memberi dan berbagi manfaat merupakan bagian penting dari nilai yang perlu dibangun selama berada di lingkungan pendidikan. Terlebih Unisma bagian dari warisan para ulama yang memiliki nilai historis dan keagamaan.
“Unisma ini peninggalan warisan para auliya Allah. Jadi pasti ada berkah. Carilah berkah itu di Unisma ini. Ini adalah al-buq'atul mubarakah yang di sini ada gudang berkah,” katanya.
Sementara itu, Rektor Unisma, Prof. Junaidi mengatakan, kehadiran Menteri Agama dalam rangkaian Oshika diharapkan memberikan motivasi sekaligus penguatan bagi mahasiswa baru.
Menurut Prof. Junaidi, pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menata niat sebelum memulai pendidikan di Unisma. Selain itu, mahasiswa juga didorong belajar dari sejarah dan keteladanan para pendiri kampus.
“Unisma sebagai institusi yang didirikan oleh para ulama bukan sekadar untuk mencari ilmu, tetapi ada keberkahan di sana. Oleh karena itu, beliau menyarankan tata niat,” ujar Prof. Junaidi.
Menurutnya, mahasiswa juga dapat menjadikan para pendiri Unisma sebagai sumber pembelajaran. Salah satunya dengan mempelajari semangat dan pemikiran Profesor KH Tolchah Hasan.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan penguatan kepada mahasiswa dalam rangkaian Orientasi Studi dan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (Oshika Maba) Pascasarjana dan RPL di Unisma, Jumat (2/10/2026).
Nasaruddin mengatakan, Unisma memiliki kekhasan sebagai perguruan tinggi yang lahir dari lingkungan ulama dan Nahdlatul Ulama. Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengejar pengetahuan akademik, tetapi juga nilai kebermanfaatan dan keberkahan selama menjalani pendidikan.
“Kalau masuk di Unisma, niatnya harus luhur, bukan tujuannya untuk duniawi. Tetapi sesuai dengan motonya, Anfa'uhum linnas,” tutur Nasaruddin.
Ia mengajak mahasiswa memaknai pendidikan sebagai proses untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Menurutnya, semangat memberi dan berbagi manfaat merupakan bagian penting dari nilai yang perlu dibangun selama berada di lingkungan pendidikan. Terlebih Unisma bagian dari warisan para ulama yang memiliki nilai historis dan keagamaan.
“Unisma ini peninggalan warisan para auliya Allah. Jadi pasti ada berkah. Carilah berkah itu di Unisma ini. Ini adalah al-buq'atul mubarakah yang di sini ada gudang berkah,” katanya.
Sementara itu, Rektor Unisma, Prof. Junaidi mengatakan, kehadiran Menteri Agama dalam rangkaian Oshika diharapkan memberikan motivasi sekaligus penguatan bagi mahasiswa baru.
Menurut Prof. Junaidi, pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menata niat sebelum memulai pendidikan di Unisma. Selain itu, mahasiswa juga didorong belajar dari sejarah dan keteladanan para pendiri kampus.
“Unisma sebagai institusi yang didirikan oleh para ulama bukan sekadar untuk mencari ilmu, tetapi ada keberkahan di sana. Oleh karena itu, beliau menyarankan tata niat,” ujar Prof. Junaidi.
Menurutnya, mahasiswa juga dapat menjadikan para pendiri Unisma sebagai sumber pembelajaran. Salah satunya dengan mempelajari semangat dan pemikiran Profesor KH Tolchah Hasan.
“Harapannya, penguatan dari Menteri Agama menjadi bekal mahasiswa untuk menjalani pendidikan sekaligus mengembangkan diri sebagai pribadi yang memiliki kompetensi dan kebermanfaatan sosial,” ungkap Junaidi.
Rangkaian Oshika Pascasarjana Unisma tahun ini diikuti sekitar 810 mahasiswa. Sebagian mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) mengikuti kegiatan secara daring karena telah bekerja, sementara mahasiswa program magister dan doktor mengikuti kegiatan secara langsung.
Mahasiswa tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Unisma juga menerima mahasiswa internasional, di antaranya dari Sierra Leone, Afrika, yang menempuh Magister Manajemen melalui beasiswa Pemerintah Indonesia, serta mahasiswa dari Timor Leste.
Sejumlah program studi pascasarjana Unisma juga tengah dalam proses pengembangan, di antaranya Program Doktor Ilmu Pemerintahan, Program Doktor Pendidikan Bahasa Inggris, dan Magister Akuntansi.
Rangkaian Oshika Pascasarjana Unisma tahun ini diikuti sekitar 810 mahasiswa. Sebagian mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) mengikuti kegiatan secara daring karena telah bekerja, sementara mahasiswa program magister dan doktor mengikuti kegiatan secara langsung.
Mahasiswa tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Unisma juga menerima mahasiswa internasional, di antaranya dari Sierra Leone, Afrika, yang menempuh Magister Manajemen melalui beasiswa Pemerintah Indonesia, serta mahasiswa dari Timor Leste.
Sejumlah program studi pascasarjana Unisma juga tengah dalam proses pengembangan, di antaranya Program Doktor Ilmu Pemerintahan, Program Doktor Pendidikan Bahasa Inggris, dan Magister Akuntansi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....