Halaqoh Diniyah Unisma Bekali Mahasiswa Hadapi Tantangan Zaman
- 01 Okt 2026 18:15 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Islam Malang (Unisma) membekali mahasiswa baru dengan penguatan nilai keislaman sekaligus wawasan menghadapi perkembangan teknologi melalui Halaqoh Diniyah yang digelar pada 1–3 Oktober 2026.
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Meneguhkan Peradaban dalam Bingkai Aswaja”, kegiatan tersebut menjadi rangkaian lanjutan setelah pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa.
Rektor Unisma, Prof. Junaidi mengatakan, Halaqoh Diniyah diarahkan untuk memperkuat karakter religius, keislaman, dan nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) mahasiswa.
“Setelah kegiatan pengenalan kampus, kita lanjut dengan kegiatan Halaqoh Diniyah. Dalam kegiatan ini kita mengembangkan lebih lanjut fondasi penguatan karakter religiusitas, karakter keislaman, Aswaja, dan jamaah mahasiswa,” ujar Prof. Junaidi dalam pembukaan Halaqoh Diniyah di gedung bundar Unisma, Kamis (1/10/2026).
Halaqoh Diniyah merupakan kegiatan bimbingan keagamaan dalam kelompok kecil yang bertujuan memperdalam pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Islam.
Dalam pembukaan kegiatan, mahasiswa mendapatkan penguatan wawasan dari Kyai Abdullah Sam atau yang dikenal sebagai Kyai Sableng, serta Cak Suro dkk. Setelah sesi pengajian, mahasiswa akan mengikuti kegiatan dalam dua kelompok besar selama tiga hari.
Kyai Abdullah Sam menekankan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan pemahaman keagamaan.
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Meneguhkan Peradaban dalam Bingkai Aswaja”, kegiatan tersebut menjadi rangkaian lanjutan setelah pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa.
Rektor Unisma, Prof. Junaidi mengatakan, Halaqoh Diniyah diarahkan untuk memperkuat karakter religius, keislaman, dan nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) mahasiswa.
“Setelah kegiatan pengenalan kampus, kita lanjut dengan kegiatan Halaqoh Diniyah. Dalam kegiatan ini kita mengembangkan lebih lanjut fondasi penguatan karakter religiusitas, karakter keislaman, Aswaja, dan jamaah mahasiswa,” ujar Prof. Junaidi dalam pembukaan Halaqoh Diniyah di gedung bundar Unisma, Kamis (1/10/2026).
Halaqoh Diniyah merupakan kegiatan bimbingan keagamaan dalam kelompok kecil yang bertujuan memperdalam pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Islam.
Dalam pembukaan kegiatan, mahasiswa mendapatkan penguatan wawasan dari Kyai Abdullah Sam atau yang dikenal sebagai Kyai Sableng, serta Cak Suro dkk. Setelah sesi pengajian, mahasiswa akan mengikuti kegiatan dalam dua kelompok besar selama tiga hari.
Kyai Abdullah Sam menekankan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan pemahaman keagamaan.
“Mahasiswa juga perlu membangun jejaring serta menguasai kemampuan digital untuk menghadapi perubahan dunia kerja dan kehidupan sosial,” ungkapnya.
Menurutnya, kemampuan membangun jaringan menjadi salah satu bekal penting mahasiswa karena dapat membuka ruang kolaborasi dan berbagai peluang di masa depan.
Ia juga menyoroti pentingnya digital quotient!atau kecakapan digital. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami perkembangan teknologi, termasuk kemampuan pemrograman atau coding, karena teknologi digital semakin berpengaruh dalam berbagai bidang.
“Kalau kita tidak segera menuju ke digital quotient, sama saja kita menggali kuburan sendiri. Hari ini tidak cukup hanya out of the box, tetapi kita harus melompat jauh,” katanya.
Kyai Abdullah Sam juga mengingatkan mahasiswa agar perkembangan teknologi tetap berjalan seimbang dengan tanggung jawab keagamaan, sosial, dan lingkungan.
Ia menyebut mahasiswa memiliki setidaknya tiga tanggung jawab yang perlu berjalan beriringan, yakni tanggung jawab kepada Tuhan, kepada sesama manusia, dan terhadap lingkungan.
Kemampuan melihat masa depan juga menjadi bagian penting dari karakter mahasiswa dan ilmuwan. Karena itu, mahasiswa didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi memahami perkembangan teknologi yang akan membentuk masa depan, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Ciri-ciri mahasiswa atau ilmuwan adalah memiliki pikiran future, memiliki pandangan yang jauh ke depan. Masa depan adalah AI, dasarnya adalah coding,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan membangun jaringan menjadi salah satu bekal penting mahasiswa karena dapat membuka ruang kolaborasi dan berbagai peluang di masa depan.
Ia juga menyoroti pentingnya digital quotient!atau kecakapan digital. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami perkembangan teknologi, termasuk kemampuan pemrograman atau coding, karena teknologi digital semakin berpengaruh dalam berbagai bidang.
“Kalau kita tidak segera menuju ke digital quotient, sama saja kita menggali kuburan sendiri. Hari ini tidak cukup hanya out of the box, tetapi kita harus melompat jauh,” katanya.
Kyai Abdullah Sam juga mengingatkan mahasiswa agar perkembangan teknologi tetap berjalan seimbang dengan tanggung jawab keagamaan, sosial, dan lingkungan.
Ia menyebut mahasiswa memiliki setidaknya tiga tanggung jawab yang perlu berjalan beriringan, yakni tanggung jawab kepada Tuhan, kepada sesama manusia, dan terhadap lingkungan.
Kemampuan melihat masa depan juga menjadi bagian penting dari karakter mahasiswa dan ilmuwan. Karena itu, mahasiswa didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi memahami perkembangan teknologi yang akan membentuk masa depan, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Ciri-ciri mahasiswa atau ilmuwan adalah memiliki pikiran future, memiliki pandangan yang jauh ke depan. Masa depan adalah AI, dasarnya adalah coding,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....