Hari Sarjana Nasional, FISIP Unira: Gelar Harus Berdampak bagi Masyarakat
- 29 Sep 2026 13:56 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Peringatan Hari Sarjana Nasional yang jatuh setiap 29 September dinilai bukan sekadar momentum memberikan ucapan selamat kepada para lulusan perguruan tinggi. Lebih dari itu, peringatan tersebut menjadi ajang refleksi mengenai peran dan kontribusi sarjana di tengah dinamika masyarakat yang terus berubah.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, Husnul Hakim Syadad, SH, MH, mengatakan gelar sarjana saat ini tidak lagi cukup dimaknai sebagai simbol keberhasilan akademik semata.
Menurutnya, seorang sarjana harus mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat, pemecah masalah, sekaligus bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Peringatan Hari Sarjana Nasional setiap tanggal 29 September, menurut saya ini bukan sekedar momentum untuk mengucapkan selamat kepada yang mendapatkan gelar sarjana. Lebih penting dari itu adalah kita patut bertanya, sebenarnya apa, sebenarnya untuk apa seseorang menjadi sarjana," ujar Husnul, Selasa (29/9/2026).
"Kalau hari ini gelar sarjana sudah bukan sekedar simbol keberhasilan akademik, Sarjana harus menjadi manusia pembelajar, pemecah masalah sekaligus bagian dari solusi masyarakat,” lanjutnya.
Ia menilai tantangan yang dihadapi sarjana saat ini jauh berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah berbagai aspek kehidupan, mulai dari dunia kerja, pola penyebaran informasi, hingga sistem pelayanan publik. Karena itu, kemampuan akademik saja dinilai tidak cukup untuk menjawab kebutuhan zaman.
“Tantangan Sarjana sekarang juga berbeda Kita hidup di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat, Era digital, bahkan era artificial intelligence banyak pekerjaan berubah, cara masyarakat mendapatkan informasi juga berubah dan cara pemerintah memberikan pelayanan juga berubah, Maka, sarjana tidak cukup hanya pintar menjawab soal ujian Sarjana harus mampu hari ini membaca persoalan nyata,” katanya.
Husnul menambahkan, perguruan tinggi perlu memastikan lulusannya tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki integritas dan kepedulian sosial.
Menurutnya, keberadaan sarjana akan lebih bermakna apabila ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi dapat diterapkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, tetapi tetap memiliki integritas dan kepedulian sosial. Hari ini jangan sampai kampus hanya menghasilkan orang yang memiliki ijazah Tetapi tidak memiliki daya juang dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat, Karena pada akhirnya nilai seorang sarjana bukan hanya terletak pada gelarnya, tetapi pada apa yang ia lakukan setelah mendapatkan gelar itu,” ujarnya.
Ia menegaskan, ilmu pengetahuan yang berhenti pada pencapaian administratif tidak akan memberikan dampak besar bagi pembangunan. Sebaliknya, ilmu yang digunakan untuk menciptakan inovasi, memperbaiki pelayanan publik, membuka lapangan kerja, dan membantu masyarakat akan memberikan nilai yang lebih luas.
“Kalau ilmunya hanya berhenti di lembar ijasah, kita hanya akan menghasilkan sarjana administratif. Tapi kalau ilmunya digunakan untuk membantu masyarakat, menciptakan inovasi, memperbaiki layanan publik, membuka lapangan pekerjaan, dan menyelesaikan persoalan bangsa, maka disitulah sesungguhnya makna menjadi seorang sarjana, " tuturnya.
"Selamat Hari Sarjana Nasional, jadilah sarjana yang baik, yang tidak hanya berpendidikan, tetapi juga berpengetahuan, berintegritas, dan memberi manfaat bagi sesamanya,” sambung Husnul.
Peringatan Hari Sarjana Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari kontribusi nyata yang mampu diberikan para sarjana bagi kemajuan masyarakat dan bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....