Profesor UB Kembangkan Teknologi Pelapisan Material untuk Kemasan Pangan
- 22 Sep 2026 16:45 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pengembangan material untuk kebutuhan industri selama ini masih kerap dilakukan melalui metode trial and error atau coba-coba. Untuk mengubah pendekatan tersebut, Prof. Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan kerangka kerja integratif bernama COAT360.
Kerangka tersebut diperkenalkan dalam pidato pengukuhannya sebagai Profesor dalam bidang Pelapisan dan Karakterisasi Material di Fakultas Teknik UB pada Selasa (22/9/2026). COAT360 dirancang untuk menghubungkan proses pelapisan, karakterisasi permukaan, ketahanan material, hingga fungsi akhir dalam satu siklus pengembangan.
Prof. Putu menjelaskan, pengembangan material selama ini sering menghasilkan data pengujian yang terpisah-pisah. Melalui COAT360, kondisi permukaan dan antarmuka material ditempatkan sebagai penghubung antara proses pembuatan dengan fungsi akhir yang diharapkan.
"Bagaimana kita bisa melakukan suatu permodelan dari bermacam-macam material, mulai logam, keramik, maupun kertas, sehingga kita bisa memperoleh fungsi akhir dari material tersebut," katanya.
Salah satu penerapan yang dikembangkan berkaitan dengan material untuk kemasan pangan. Menurut Prof. Putu, kemasan makanan berbahan logam dapat dilapisi menggunakan material alami untuk mengurangi risiko korosi sekaligus mempertimbangkan aspek keamanan bahan yang bersentuhan dengan makanan.
Ia mencontohkan, penggunaan kitosan yang berasal dari limbah udang sebagai salah satu bahan pelapis pada kemasan berbahan logam.
Pendekatan serupa juga diarahkan pada pengembangan bioplastik sebagai alternatif material untuk kemasan makanan.
"Kita mengetahui kalau misalnya plastik itu sekarang selain harganya mahal juga tidak baik untuk kesehatan kita. Sehingga di sini saya mencoba menerapkan teknik pelapisan baru untuk kemasan makanan dengan mempergunakan bioplastik," ungkap profesor aktif ke-34 di FT UB ini.
Dalam kerangka COAT360, terdapat enam rantai bukti yang digunakan untuk menilai kualitas material. Prosesnya dimulai dari pemeriksaan kondisi awal material, keseragaman lapisan, perubahan struktur penyusun, daya lekat antarmuka, ketahanan terhadap lingkungan, hingga evaluasi fungsi akhir.
“Dengan pendekatan tersebut, data hasil pengujian tidak berhenti sebagai angka, tetapi digunakan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat antara proses pelapisan dan kinerja material,” ujarnya.
Menurut Prof. Putu, keunggulan lainnya adalah setiap keberhasilan maupun kegagalan dalam proses pengembangan dapat menjadi informasi untuk memperbaiki desain material berikutnya.
Kerangka COAT360 dapat diterapkan pada berbagai kebutuhan, mulai dari kemasan pangan, biomaterial medis, teknologi energi bersih hingga pencegahan korosi.
Ke depan, kerangka tersebut diarahkan untuk membangun bank data material yang tervalidasi. Data tersebut nantinya dapat dikembangkan dengan dukungan *machine learning* dan kecerdasan buatan untuk membantu memprediksi teknik pelapisan dan pengembangan material baru.
"Kita mencari benang merah antara satu bahan dengan bahan yang lain. Dari sanalah nanti kita akan mengetahui bagaimana permodelan ini bisa mempengaruhi kita untuk bisa membuat suatu permodelan baru, bisa menggunakan material baru dengan model yang sudah ada," jelasnya.
Kerangka tersebut diperkenalkan dalam pidato pengukuhannya sebagai Profesor dalam bidang Pelapisan dan Karakterisasi Material di Fakultas Teknik UB pada Selasa (22/9/2026). COAT360 dirancang untuk menghubungkan proses pelapisan, karakterisasi permukaan, ketahanan material, hingga fungsi akhir dalam satu siklus pengembangan.
Prof. Putu menjelaskan, pengembangan material selama ini sering menghasilkan data pengujian yang terpisah-pisah. Melalui COAT360, kondisi permukaan dan antarmuka material ditempatkan sebagai penghubung antara proses pembuatan dengan fungsi akhir yang diharapkan.
"Bagaimana kita bisa melakukan suatu permodelan dari bermacam-macam material, mulai logam, keramik, maupun kertas, sehingga kita bisa memperoleh fungsi akhir dari material tersebut," katanya.
Salah satu penerapan yang dikembangkan berkaitan dengan material untuk kemasan pangan. Menurut Prof. Putu, kemasan makanan berbahan logam dapat dilapisi menggunakan material alami untuk mengurangi risiko korosi sekaligus mempertimbangkan aspek keamanan bahan yang bersentuhan dengan makanan.
Ia mencontohkan, penggunaan kitosan yang berasal dari limbah udang sebagai salah satu bahan pelapis pada kemasan berbahan logam.
Pendekatan serupa juga diarahkan pada pengembangan bioplastik sebagai alternatif material untuk kemasan makanan.
"Kita mengetahui kalau misalnya plastik itu sekarang selain harganya mahal juga tidak baik untuk kesehatan kita. Sehingga di sini saya mencoba menerapkan teknik pelapisan baru untuk kemasan makanan dengan mempergunakan bioplastik," ungkap profesor aktif ke-34 di FT UB ini.
Dalam kerangka COAT360, terdapat enam rantai bukti yang digunakan untuk menilai kualitas material. Prosesnya dimulai dari pemeriksaan kondisi awal material, keseragaman lapisan, perubahan struktur penyusun, daya lekat antarmuka, ketahanan terhadap lingkungan, hingga evaluasi fungsi akhir.
“Dengan pendekatan tersebut, data hasil pengujian tidak berhenti sebagai angka, tetapi digunakan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat antara proses pelapisan dan kinerja material,” ujarnya.
Menurut Prof. Putu, keunggulan lainnya adalah setiap keberhasilan maupun kegagalan dalam proses pengembangan dapat menjadi informasi untuk memperbaiki desain material berikutnya.
Kerangka COAT360 dapat diterapkan pada berbagai kebutuhan, mulai dari kemasan pangan, biomaterial medis, teknologi energi bersih hingga pencegahan korosi.
Ke depan, kerangka tersebut diarahkan untuk membangun bank data material yang tervalidasi. Data tersebut nantinya dapat dikembangkan dengan dukungan *machine learning* dan kecerdasan buatan untuk membantu memprediksi teknik pelapisan dan pengembangan material baru.
"Kita mencari benang merah antara satu bahan dengan bahan yang lain. Dari sanalah nanti kita akan mengetahui bagaimana permodelan ini bisa mempengaruhi kita untuk bisa membuat suatu permodelan baru, bisa menggunakan material baru dengan model yang sudah ada," jelasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....