Lebur Duka Labur Rasa, Model Psikologi Ajak Individu Menerima Realitas

  • 22 Sep 2026 14:30 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tidak semua persoalan hidup harus dihadapi dengan memaksakan diri untuk selalu optimistis atau berpikir positif. Kemampuan melihat kenyataan sebagaimana adanya justru menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.

Gagasan tersebut ditawarkan Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D. melalui model “Lebur Duka Labur Rasa” yang dikembangkan sebagai pendekatan psikologi berbasis realitas kehidupan.

Prof. Cleo yang dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Psikologi Umum dan Eksperimen di FISIP Universitas Brawijaya (UB) menjelaskan, model tersebut berangkat dari pandangan bahwa individu perlu mampu membedakan pengalaman subjektif dengan realitas yang dihadapi.

Menurutnya, seseorang kerap terjebak dalam pola pikir dikotomis, seperti optimistis atau pesimistis, positif atau negatif. Padahal, terdapat ruang untuk melihat situasi secara realistis dan tidak selalu memberikan pemaknaan yang sesuai dengan keinginan pribadi.

"Di antara optimis dan pesimis sebenarnya ada jalan tengah yang dinamakan realistis. Di antara positif dan negatif sebenarnya ada titik yang dinamakan titik netral," katanya, Selasa (22/9/2026).
Profesor ke-5 di FISIP UB ini mengatakan, sejumlah jargon psikologi populer seperti “kamu pasti bisa” atau “terima kasih telah bertahan” tidak selalu relevan untuk semua situasi. Bukan berarti individu harus menjadi pesimistis, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi kenyataan tanpa terus-menerus menghindarinya.

“Maka model Lebur Duka Labur Rasa ini memiliki keterkaitan dengan tradisi kontemplasi yang berkembang dalam pemikiran Timur,” ujarnya.

Salah satu prinsip yang ditawarkan adalah memahami bahwa berbagai hal dalam kehidupan terjadi ketika kondisi yang memungkinkan telah terpenuhi. Perubahan, penuaan, sakit, hingga kematian merupakan bagian dari realitas kehidupan yang tidak dapat dihindari.

"Segala hal itu bisa terjadi karena syaratnya terpenuhi. Menua, sakit, mati adalah patokan dari realitas. Sifat realitas itu memang seperti itu, selalu berubah sehingga kemudian tidak memuaskan dan tidak memiliki inti," katanya.

Prinsip berikutnya berkaitan dengan pengalaman subjektif manusia. Prof. Cleo menjelaskan, pengalaman seseorang terhadap suatu peristiwa tidak selalu sama dengan realitas yang terjadi. Karena itu, pengalaman perlu terus diperiksa dan dipertanyakan agar individu tidak terjebak pada keinginan, penolakan, maupun pemaknaan yang justru menjauhkan diri dari kenyataan.

Ia mencontohkan sejumlah ungkapan yang sering digunakan untuk menghibur diri, seperti “kegagalan adalah sukses yang tertunda”. Menurutnya, ungkapan tersebut perlu dilihat kembali dalam konteks pengalaman setiap individu agar tidak menjadi cara untuk menghindari kenyataan atas sebuah kegagalan.

“Model ini juga memandang bahwa diri atau self bukan sesuatu yang sepenuhnya solid dan tetap. Identitas seseorang terus berubah seiring pengalaman dan kondisi kehidupan,” ungkap guru besar ke-458 di UB ini.

Prof. Cleo menyebut terdapat tiga ciri yang kerap membentuk persepsi tentang diri, yakni mineness atau rasa kepemilikan, centeredness atau anggapan bahwa diri merupakan pusat pengalaman, dan selfhood atau perasaan bahwa diri merupakan sosok yang unik dan penting.

"Self atau diri itu bukan entitas yang bersifat solid sehingga tidak perlu dicari-cari karena tidak akan ketemu juga," ujarnya.

Ia menilai pemahaman tersebut penting agar individu tidak terus mengejar gambaran ideal tentang dirinya yang sebenarnya selalu berubah. Karena itu, gagasan seperti “menjadi versi terbaik dari diri sendiri” juga perlu dipahami secara lebih kritis.

Dalam penerapannya, model Lebur Duka Labur Rasa tidak diarahkan untuk menambah tuntutan kepada individu, tetapi justru membantu seseorang melepaskan kemarahan, ketakutan, dan ketidaktenangan yang muncul karena keinginan agar realitas selalu sesuai dengan harapan.

Prof. Cleo menekankan, penerapan model tersebut bukan proses instan. Dibutuhkan latihan dan proses sepanjang hayat karena manusia secara intuitif cenderung mencari pengalaman yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang tidak disukai.

Karena itu, ia menilai model tersebut masih perlu terus diuji pada berbagai kelompok melalui penelitian, termasuk metode eksperimen. Pengembangan model juga perlu diikuti edukasi kepada masyarakat agar konsepnya dapat dipahami secara utuh.

"Kerelaan individu untuk berangkat dari apa yang dinamakan sebagai penderitaan adalah prasyarat untuk mengalami realitas sebagaimana adanya," tandasnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....