Panggung, Bukur dan Bioro Jejak Prasasti Sugih Manek
- 21 Sep 2026 16:14 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Sejarah Dusun Panggung dan Bukur di Kelurahan Mojolangu serta Dusun Bioro di Kelurahan Jatimulyo memiliki keterkaitan dengan Prasasti Sugih Manek yang berangka tahun 837 Saka atau 915 Masehi. Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Daksa dari Kerajaan Mataram Kuno itu menyebut keberadaan bangunan suci dan asrama kependetaan milik Rakryan Kanuruhan di Desa Limus.
Dalam prasasti tersebut, bangunan dan asrama kependetaan disebut dengan istilah dharmma rakryān prāsāda kabikwan i sugih manek. Berdasarkan kajian sejarah dalam materi tersebut, asrama kependetaan atau kabikuan itu kini dikaitkan dengan kampung Bioro, sedangkan kompleks bangunan sucinya dikaitkan dengan Panggung dan Bukur.
“Bioro merupakan tempat tinggal para pendeta (kabikuan), Bukur merupakan bangunan semacam pendopo di halaman percandian, dan Panggung merupakan istilah lain untuk menyebut bangunan yang menjulang (prasada)," jelas Sejarawan Malang, Suwardono, saat dikonfirmasi RRI pada Senin (21/9/2026).
Menurut Suwardono, ketiga kawasan tersebut berada cukup berdekatan dengan Kelurahan Tunggulwulung. Bahkan sebelum pemekaran wilayah Kota Malang, Panggung, Bukur dan Bioro merupakan bagian dari anak Desa Tunggulwulung, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Istilah Panggung juga berkaitan dengan gambaran bangunan suci yang menjulang. Bangunan semacam itu tentu membutuhkan banyak anak tangga untuk mencapai bagian atasnya, sehingga bangunan suci tersebut dikenal dengan sebutan Sugih Manek atau Sugih Manaik yang dimaknai sebagai “banyak anak tangga untuk naik”.
"Kawasan tempat tinggal para pendeta dan lingkungan percandian tersebut juga memiliki pelengkap berupa patirthan kuno. Patirthan yang berada di tengah kawasan Panggung, Bukur dan Bioro itu sekarang dikenal sebagai Situs Bejisari atau Punden Bejisari," katanya.
Dengan demikian, Bioro, Bukur, Panggung dan Punden Bejisari dalam kajian tersebut dipandang sebagai bagian yang saling berkaitan dalam satu lingkungan peninggalan kuno. Bioro dikaitkan dengan tempat tinggal para pendeta, Bukur dengan bangunan semacam pendopo di halaman percandian, Panggung dengan bangunan prasada, sementara Bejisari merupakan patirthan yang melengkapi kawasan tersebut.
"Pertanyaan berikutnya adalah mengenai lokasi asli Prasasti Sugih Manek yang kemudian ditemukan di daerah Mbiru, Singosari. Kajian tersebut menduga prasasti itu pada awalnya berasal dari Punden Magetan di area makam Magetan, yang lokasinya hanya sekitar 750 meter dari Dusun Panggung," ujar Suwardono.
Ia juga menjelaskan, di kawasan Punden Magetan ditemukan sisa-sisa pondasi bata merah kuno. Nama Magetan sendiri dalam kajian tersebut dikaitkan dengan akar kata ênggêt yang berarti garis atau batas, dan kata magêtêtan yang berarti telah dibuat batas atau telah dibatasi.
"Hal tersebut dinilai sesuai dengan fungsi Prasasti Sugih Manek sebagai tanda penetapan pembatasan tanah sima di Desa Limus. Dari rangkaian jejak tersebut, Punden Magetan menjadi lokasi yang diduga berkaitan dengan tempat asli prasasti sebelum akhirnya ditemukan di Mbiru, Singosari," terangnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....