Sejarawan: Bawang dan Poh Payung Berkaitan dengan Jejak Desa Limus

  • 21 Sep 2026 16:18 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Bawang dan Poh Payung yang berada di wilayah Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, memiliki keterkaitan dengan sejarah kawasan yang disebut dalam Prasasti Sugih Manek. Prasasti tersebut berangka tahun 837 Saka atau 915 Masehi yang dikeluarkan oleh Raja Daksa dari Kerajaan Mataram Kuno.

Sejarawan Malang Suwardono mengatakan, prasasti Sugih Manek berkaitan dengan anugerah raja kepada Rakryan Kanuruhan Dyah Mumpung untuk membatasi sebidang tanah yang disebut sebagai Desa Limus beserta anak desanya, Tampuran. Dari isi prasasti tersebut dapat diketahui bahwa Desa Limus dan Tampuran berada dalam wilayah watak Kanuruhan, dengan keraton Kanuruhan diperkirakan berada di sekitar Dinoyo sekarang.

"Sejumlah desa tetangga Desa Limus juga disebut dalam peristiwa penetapan sima, yaitu Kalanglingan, Wungkalingan, Wurandungan dan Tampuran. Identifikasi terhadap nama-nama tersebut kemudian memberikan petunjuk mengenai posisi Desa Limus berdasarkan keberadaan wilayah yang hingga kini masih dapat dikenali," jelas Suwardono pada Senin (21/9/2026).

Wungkalingan diduga merupakan Sengkaling sekarang, sedangkan Wurandungan dapat dikaitkan dengan Pelandungan atau Kelandungan di wilayah Kelurahan Tlogomas. Sementara Kalanglingan diduga merupakan Dusun Ngaringan dan Tampuran dikaitkan dengan Dusun atau Kampung Sudimara.

"Kawasan Bawang dan Poh Payung juga menjadi bagian dari petunjuk geografis tersebut. Kedua dusun itu berada di timur laut Kelurahan Tlogomas, di seberang Sungai Brantas, sementara Sengkaling dan Pelandungan berada di sebelah barat dan barat daya, serta Ngaringan dan Sudimara masing-masing berada di barat laut dan tenggara," urainya.

Nama Bawang sendiri dalam kajian tersebut tidak berkaitan dengan bawang sebagai bahan bumbu dapur. Nama itu diduga berasal dari kata ambawang atau ambacang, yakni nama buah dari kelompok mangga-manggaan atau Mangifera, termasuk Mangifera foetida Lour yang juga disebut Ambawang, Ambacang atau Limus.

“Nama mbawang bukan berasal dari kata ‘bawang’ sebagai bahan bumbu dapur, tetapi berasal dari kata ambawang atau ambacang, yang merupakan nama buah kelompok mangga-manggaan jenis Mangifera," terang Suwardono.

Sementara itu, nama Poh Payung dikaitkan dengan pohon mangga yang memiliki cabang lebat menyerupai payung. Nama tersebut juga merupakan nama tumbuhan dari rumpun Mangifera atau mangga-manggaan.

Berdasarkan rangkaian petunjuk tersebut, Desa Limus yang disebut dalam Prasasti Sugih Manek pada tahun 915 Masehi diduga pada masa berikutnya mengalami perubahan nama menjadi kawasan yang sekarang dikenal sebagai Dusun Bawang dan Poh Payung. Identifikasi ini menjadi bagian dari upaya menelusuri jejak sejarah kawasan Malang pada masa Mataram Kuno.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....