Cukup dengan Webcam, Peneliti UM Kembangkan Foveo-One di Dunia Pendidikan
- 21 Sep 2026 09:47 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Peneliti Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan Foveo-One, purwarupa teknologi eye tracking berbasis webcam yang dapat digunakan untuk memetakan pola perhatian siswa saat mempelajari materi genetika.
“Teknologi ini dikembangkan sebagai alternatif yang lebih mudah diakses dibandingkan perangkat eye tracking khusus yang selama ini relatif mahal. Dengan memanfaatkan kamera pada laptop atau komputer, sistem dapat merekam arah pandangan peserta saat berinteraksi dengan materi pembelajaran,” kata tim peneliti, Prof. Dr. Siti Zubaidah, S.Pd., M.Pd., Senin (21/9/2026).
Menurutnya, Foveo-One juga mengintegrasikan facial emotion recognition untuk memperoleh indikator respons peserta selama proses belajar. Data tatapan dan respons tersebut kemudian dapat dianalisis secara bersamaan untuk melihat hubungan antara materi yang diamati dengan perubahan respons peserta.
“Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu peneliti memahami proses belajar secara lebih objektif. Selama ini evaluasi media pembelajaran banyak mengandalkan persepsi siswa melalui angket yang sifatnya subjektif,” ujarnya.
Platform Foveo-One berbasis web. Peneliti dapat membuat studi, memasukkan stimulus berupa teks, gambar, video, PDF, atau materi visual lainnya, kemudian menentukan Area of Interest (AOI) yang ingin diamati. Peserta terlebih dahulu melakukan kalibrasi menggunakan webcam. Saat materi ditampilkan, sistem merekam koordinat arah pandangan atau gaze peserta.
“Hasil pengukuran dapat divisualisasikan melalui heatmap dan scanpath. Heatmap menunjukkan bagian materi yang mendapatkan perhatian lebih tinggi, sedangkan scanpath menggambarkan perpindahan pandangan peserta selama mengamati stimulus,” tuturnya.
Dalam pembelajaran genetika, misalnya, peneliti dapat menetapkan gambar kromosom, diagram persilangan, teks penjelasan, atau objek pada model tiga dimensi sebagai area yang dianalisis.
Foveo-One juga menyediakan sejumlah metrik, antara lain time to first fixation (TTFF), dwell time, durasi fiksasi, proporsi fokus, kunjungan ulang, dan transisi perhatian.
Data tersebut kemudian dapat dipadukan dengan indikator facial emotion recognition, seperti attention, engagement, dan arousal. Integrasi ini memungkinkan peneliti melihat perubahan respons peserta ketika memperhatikan bagian tertentu dari materi pembelajaran.
Pengembangan Foveo-One telah memasuki tahap uji kepraktisan. Pada September 2026, sebanyak 30 mahasiswa Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UM dilibatkan untuk mencoba penggunaan platform, mulai dari membuka studi, melakukan kalibrasi kamera, mengikuti stimulus hingga proses perekaman data.
“Hasil awal menunjukkan alur penggunaan platform relatif mudah dipahami peserta. Masukan dari uji tersebut kemudian digunakan untuk menyempurnakan antarmuka, alur penggunaan, dan pengalaman pengguna,” ujar Siti.
Pada tahap awal pengembangan, Foveo-One berada pada Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 3. Setelah validasi dan uji kepraktisan, tim peneliti menyiapkan pengujian lebih luas, termasuk implementasi kepada siswa SMA sebagai sasaran akhir penelitian.
Menurut Siti, pembelajaran genetika menjadi salah satu konteks yang relevan karena materi tersebut menggunakan berbagai bentuk representasi, mulai dari teks, gambar, diagram hingga model struktur.
“Data perhatian visual dapat membantu peneliti melihat bagian materi yang lebih lama diamati, pola perpindahan pandangan, maupun informasi yang berulang kali dilihat siswa. Temuan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dalam merancang media pembelajaran,” katanya.
Dari sisi privasi, sistem dirancang agar pemrosesan data gaze dan ekspresi dilakukan pada perangkat pengguna. Data yang dikirim berupa hasil pengolahan seperti koordinat, bukan rekaman video wajah secara langsung. Penggunaan kamera juga dilakukan setelah peserta memberikan persetujuan mengikuti studi.
Meski menggunakan webcam, Foveo-One tidak ditujukan untuk menggantikan seluruh fungsi atau tingkat presisi perangkat eye tracker profesional. Teknologi ini dikembangkan sebagai alternatif untuk memperluas akses terhadap analisis perhatian visual dalam penelitian pendidikan.
Ke depan, tim UM menargetkan pemanfaatan Foveo-One untuk berbagai penelitian pendidikan, termasuk evaluasi bahan ajar, multimedia, video pembelajaran, hingga pengalaman pengguna pada aplikasi pendidikan.
“Harapan kami, Foveo-One dapat menjadi salah satu alternatif teknologi yang membantu peneliti dan pendidik memahami proses belajar secara lebih utuh. Bukan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga mengetahui bagaimana siswa memperhatikan materi, kapan fokus mereka berubah, dan bagaimana mereka merespons informasi selama proses pembelajaran berlangsung,” pungkas Siti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....