Momen Haornas 2026, FIK UM Dorong Budaya Hidup Aktif
- 09 Sep 2026 12:27 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada 9 September 2026 menjadi momentum untuk mendorong masyarakat menjadikan aktivitas fisik dan kebugaran sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (FIK UM) menilai olahraga perlu ditempatkan tidak hanya sebagai aktivitas kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup.
Dekan FIK UM Prof. Dr. Sapto Adi, M.Kes. mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran dalam membangun budaya hidup aktif melalui pendidikan, penelitian, pembinaan prestasi, hingga pengembangan kebijakan berbasis kebugaran.
Menurutnya, olahraga tidak semata berkaitan dengan pencapaian prestasi dan perolehan medali. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin juga menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat.
“Seorang juara sejati merupakan paket komplit yang memiliki knowledge yang bagus, attitude, disiplin, dan kemampuan berinteraksi yang baik,” ujar Prof. Sapto.
Salah satu upaya yang dilakukan FIK UM adalah pengukuran kebugaran jasmani mahasiswa baru. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi fisik mahasiswa sekaligus menghasilkan data yang dapat menjadi bahan pengembangan kebijakan dan program kebugaran di lingkungan universitas.
Prof. Sapto menegaskan, kebugaran jasmani tidak hanya menjadi kebutuhan mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang keolahragaan. Kebugaran juga penting bagi setiap individu untuk mendukung produktivitas, prestasi, serta peran mereka sebagai promotor kesehatan di tengah masyarakat.
“Jadi bukan hanya sekadar juara dalam berkompetisi,” katanya.
Selain mendorong budaya kebugaran, FIK UM tetap melakukan pembinaan terhadap mahasiswa berprestasi. Dukungan diberikan melalui organisasi mahasiswa, fasilitas latihan, hingga pembinaan atlet.
Sejumlah mahasiswa FIK UM juga telah menorehkan prestasi di tingkat nasional dan internasional. Diantaranya Joko Mulyono, mahasiswa difabel yang berprestasi di tingkat nasional dan ASEAN serta menargetkan tampil di Olimpiade. Ada pula Lulut, atlet gulat peraih medali emas dan perak SEA Games yang kini melanjutkan pendidikan pada jenjang doktoral.
Di bidang akademik, FIK UM mengembangkan pendidikan dan penelitian yang diarahkan untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Dekan FIK UM Prof. Dr. Sapto Adi, M.Kes. mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran dalam membangun budaya hidup aktif melalui pendidikan, penelitian, pembinaan prestasi, hingga pengembangan kebijakan berbasis kebugaran.
Menurutnya, olahraga tidak semata berkaitan dengan pencapaian prestasi dan perolehan medali. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin juga menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat.
“Seorang juara sejati merupakan paket komplit yang memiliki knowledge yang bagus, attitude, disiplin, dan kemampuan berinteraksi yang baik,” ujar Prof. Sapto.
Salah satu upaya yang dilakukan FIK UM adalah pengukuran kebugaran jasmani mahasiswa baru. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi fisik mahasiswa sekaligus menghasilkan data yang dapat menjadi bahan pengembangan kebijakan dan program kebugaran di lingkungan universitas.
Prof. Sapto menegaskan, kebugaran jasmani tidak hanya menjadi kebutuhan mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang keolahragaan. Kebugaran juga penting bagi setiap individu untuk mendukung produktivitas, prestasi, serta peran mereka sebagai promotor kesehatan di tengah masyarakat.
“Jadi bukan hanya sekadar juara dalam berkompetisi,” katanya.
Selain mendorong budaya kebugaran, FIK UM tetap melakukan pembinaan terhadap mahasiswa berprestasi. Dukungan diberikan melalui organisasi mahasiswa, fasilitas latihan, hingga pembinaan atlet.
Sejumlah mahasiswa FIK UM juga telah menorehkan prestasi di tingkat nasional dan internasional. Diantaranya Joko Mulyono, mahasiswa difabel yang berprestasi di tingkat nasional dan ASEAN serta menargetkan tampil di Olimpiade. Ada pula Lulut, atlet gulat peraih medali emas dan perak SEA Games yang kini melanjutkan pendidikan pada jenjang doktoral.
Di bidang akademik, FIK UM mengembangkan pendidikan dan penelitian yang diarahkan untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
“Sejumlah hasil penelitian telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran pendidikan jasmani maupun praktik olahraga,” tuturnya.
Pengembangan riset tersebut sejalan dengan visi Universitas Negeri Malang menuju Research University pada 2027. FIK UM mengarahkan penelitian pada pengembangan riset terapan, termasuk yang berkaitan dengan kebugaran dan keolahragaan.
FIK UM juga terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui pengembangan jejaring akademik internasional. Sejumlah dosen melanjutkan studi dan mengembangkan kapasitas di perguruan tinggi di Australia, Malaysia, Taiwan, dan China.
Berdasarkan pemeringkatan Times Higher Education (THE) 2025, FIK UM tercatat menempati posisi ketiga di Indonesia untuk bidang keolahragaan.
“Momentum Haornas 2026 menjadi pengingat bahwa olahraga memiliki cakupan yang lebih luas daripada kompetisi. Aktivitas fisik dan kebugaran berkaitan dengan kesehatan, pembentukan karakter, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia,” tandas Sapto.
Pengembangan riset tersebut sejalan dengan visi Universitas Negeri Malang menuju Research University pada 2027. FIK UM mengarahkan penelitian pada pengembangan riset terapan, termasuk yang berkaitan dengan kebugaran dan keolahragaan.
FIK UM juga terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui pengembangan jejaring akademik internasional. Sejumlah dosen melanjutkan studi dan mengembangkan kapasitas di perguruan tinggi di Australia, Malaysia, Taiwan, dan China.
Berdasarkan pemeringkatan Times Higher Education (THE) 2025, FIK UM tercatat menempati posisi ketiga di Indonesia untuk bidang keolahragaan.
“Momentum Haornas 2026 menjadi pengingat bahwa olahraga memiliki cakupan yang lebih luas daripada kompetisi. Aktivitas fisik dan kebugaran berkaitan dengan kesehatan, pembentukan karakter, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia,” tandas Sapto.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....