FTAB UB Gagas Maggot BSF sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik SPPG

  • 27 Agt 2026 12:59 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Persoalan sampah organik dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi seiring meningkatnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Limbah sisa makanan dan bahan pangan yang langsung dibuang berpotensi menimbulkan bau serta menambah beban tempat pembuangan sampah.

Untuk itu, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) menggagas pemanfaatan Maggot Black Soldier Fly (BSF). Ini juga menjadi pembahasan dalam seminar bertema Membangun Ekosistem Ekonomi Sirkular Berbasis BSF di aula lantai 2 gedung FTAB UB, Kamis (27/8/2026).

Wakil Dekan Bidang Akademik FTAB UB, Endrika Widyastuti mengungkapkan, teknologi pengolahan menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) mulai dikaji sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi timbulan sampah organik tersebut. Pemanfaatan maggot dinilai dapat mengubah limbah organik menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna.

Menurutnya, teknologi tersebut tengah diarahkan untuk menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah organik, khususnya yang dihasilkan SPPG.

“Sekarang kita fokus ke SPPG karena banyak sekali sampah organik yang nantinya bisa diolah lebih lanjut dengan teknologi tepat guna,” kata Endrika.

Menurutnya, maggot BSF dapat menguraikan berbagai jenis sampah organik, termasuk sisa makanan dan limbah dari proses pengolahan pangan.

“Pengolahan tersebut sekaligus dapat mengurangi potensi munculnya bau apabila sampah organik langsung dibuang,” ujarnya.

Setelah mengonsumsi dan menguraikan sampah organik, maggot akan tumbuh dan dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai keperluan. Di antaranya sebagai bahan pakan ternak dan ikan, sementara hasil pengolahan lainnya berpotensi dikembangkan menjadi produk seperti biodiesel.

“Ketika maggot sudah besar, nantinya bisa diolah menjadi berbagai macam produk. Bisa untuk makanan ternak, pakan lele, bahkan biodiesel. Tinggal disesuaikan dengan teknologi dan segmen pasar yang akan dikembangkan,” jelasnya.


Pengembangan pemanfaatan maggot BSF tersebut untuk tahap awal akan difokuskan di Kota Malang. FTAB UB berencana melibatkan sekitar 5 hingga 10 SPPGnsebagai lokasi percontohan pengolahan sampah organik.

Langkah tersebut merupakan bagian dari pengembangan Center of Excellence (COE) CBSA di FTAB UB yang memperoleh hibah COE dari Dikti Insight. Salah satu rangkaian kegiatannya adalah forum diskusi yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku inovasi, dan dunia usaha.

“Kita fokus dulu di Malang sebagai percontohan. Nantinya kita usulkan supaya bisa menjadi proyek yang lebih luas lagi,” ujarnya.

Endrika menyebut, pengembangan teknologi pengolahan sampah berbasis maggot tidak harus berhenti pada lingkungan SPPG. Teknologi tersebut juga berpotensi diterapkan pada skala masyarakat, termasuk untuk mengolah sampah organik rumah tangga.

“Teknologi maggot ini mudah dikembangkan untuk masyarakat awam. Jadi tidak harus SPPG saja, dari rumah tangga juga bisa,” katanya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang tidak menempatkan sampah sebagai produk akhir, tetapi mengolahnya kembali menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

FTAB UB selanjutnya mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mengembangkan model pengelolaan sampah organik yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan.
“Sehingga persoalan sampah dari aktivitas penyediaan makanan tidak hanya ditangani melalui pembuangan, tetapi juga dapat diarahkan menjadi bagian dari rantai ekonomi baru,” tandasnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....