UB Kenalkan Drum Composter untuk Olah Sampah Organik di Ngabab

  • 20 Agt 2026 15:43 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang – Universitas Brawijaya (UB) mengenalkan penggunaan drum composter skala kecil kepada masyarakat Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, sebagai alternatif pengolahan sampah organik berbasis komunitas.

Pelatihan dan pendampingan yang digelar pada Juli hingga Agustus 2026 tersebut dilakukan tim pengabdian kepada masyarakat Program Studi Teknik Lingkungan UB melalui program Dosen Berkarya. Kegiatan dipimpin Yasa Palaguna Umar dengan melibatkan mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan UB.

“Pemilihan drum composter disesuaikan dengan karakteristik Desa Ngabab yang berada di wilayah dataran tinggi. Sebagian besar aktivitas masyarakat berkaitan dengan pertanian, hortikultura, peternakan, dan pengolahan susu yang menghasilkan bahan organik dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan kompos,” ujar Yasa, Kamis (20/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya diperkenalkan dengan perangkat drum composter, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai pemilahan dan karakteristik bahan organik yang dapat dikomposkan.

“Peserta dilatih memisahkan limbah hijau, seperti sisa sayuran, buah, dan dedaunan basah, dengan limbah cokelat berupa daun kering, serbuk gergaji, dan ranting. Bahan organik berukuran besar juga dianjurkan untuk dicacah hingga berukuran sekitar 2–5 sentimeter agar lebih mudah terurai,” katanya.

Pada praktiknya, bahan organik dimasukkan ke dalam drum secara berselang-seling dengan perbandingan bahan cokelat dan hijau sekitar 2:1. Kelembapan bahan dijaga agar tetap sesuai, sementara drum diputar secara berkala untuk membantu proses pencampuran sekaligus menjaga sirkulasi udara.

Masyarakat juga diberikan keterampilan untuk memantau kondisi kompos melalui beberapa indikator sederhana, seperti suhu, aroma, warna, dan tingkat kelembapan.

“Pendampingan juga turut membahas cara mengatasi kendala yang umum muncul selama proses pengomposan. Jika bahan terlalu basah, misalnya, masyarakat diarahkan menambahkan bahan kering. Sementara proses yang berjalan lambat dapat diatasi dengan meningkatkan pengadukan,” kata dia.

Apabila muncul bau yang tidak diinginkan, peserta diarahkan mengevaluasi kelembapan dan komposisi bahan serta memastikan komposter tetap tertutup dan proses berlangsung secara terkendali.

“Drum composter tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya solusi pengelolaan sampah organik. Teknologi tersebut menjadi salah satu pilihan sederhana yang dapat diterapkan masyarakat secara bertahap sesuai kondisi dan kapasitas pengelola,” ungkapnya.

Melalui pelatihan tersebut, tim UB berharap masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk mengolah sampah organik secara mandiri.
“Konsistensi dalam pemilahan dan pengomposan menjadi kunci agar sampah organik dapat dikurangi sekaligus dimanfaatkan kembali menjadi kompos yang berguna bagi masyarakat,” tandasnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....