UB Dorong Bank Sampah Ngabab Olah Sampah Organik

  • 20 Agt 2026 14:48 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Brawijaya (UB) mendorong penguatan pengelolaan sampah organik di Desa Ngabab, Kabupaten Malang, melalui pemberdayaan Bank Sampah Dworowati. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengenalkan mesin pencacah sampah organik portabel untuk mempermudah proses pengolahan sampah menjadi kompos.

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut berlangsung Juni hingga Agustus 2026. Kegiatan dipimpin Yasa Palaguna Umar dengan melibatkan mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan UB.

“Program ini berangkat dari masih terbatasnya praktik pemilahan dan pengolahan sampah organik di tingkat masyarakat. Hasil pendataan awal terhadap 30 responden yang terdiri atas rumah tangga, pelaku usaha, dan lembaga menunjukkan, sisa makanan menjadi jenis sampah yang paling banyak dihasilkan,” kata Yasa, Kamis (20/8/2026).

Sebanyak 60 persen responden menyebut sisa makanan sebagai sampah dominan. Sementara 50 persen responden mengaku belum pernah memilah sampah organik dan anorganik, serta 60 persen belum memiliki wadah sampah terpisah.

“Praktik pengomposan juga masih terbatas. Hanya 16,7 persen responden yang pernah melakukan pengomposan, sedangkan 73,3 persen belum pernah mengikuti sosialisasi mengenai pengelolaan sampah,” tuturnya.

Kondisi tersebut menjadi dasar bagi tim UB untuk menyusun program yang menitikberatkan pada edukasi praktis dan keterlibatan langsung masyarakat.
“Hal ini sejalan dengan minat responden, di mana 66,7 persen memilih praktik langsung sebagai metode edukasi yang paling diminati dan 70 persen menyatakan bersedia atau mungkin mengikuti kegiatan pengelolaan sampah,” ujarnya.

Rangkaian program meliputi sosialisasi pemilahan sampah, pelatihan pengomposan, workshop penggunaan mesin pencacah sampah organik portabel, hingga pengenalan aspek keselamatan dan kesehatan kerja. Tim juga melakukan instalasi dan uji fungsi mesin serta mendampingi pengelola dalam pencatatan produksi dan penjualan kompos.

“Penggunaan mesin pencacah diharapkan dapat mengurangi pekerjaan manual dalam pengolahan sampah organik. Alat tersebut juga membantu menghasilkan ukuran bahan yang lebih seragam sehingga dapat mendukung proses dekomposisi dalam pembuatan kompos,” ungkap Yasa.

Program ini menargetkan sedikitnya 20 anggota Bank Sampah Dworowati mengikuti pelatihan. Kapasitas pengolahan ditargetkan mencapai 200 kilogram sampah organik per hari, dengan produksi kompos secara bertahap sebesar 300 hingga 500 kilogram per bulan sesuai kemampuan pengelola.

“Selain meningkatkan kapasitas pengolahan sampah, program tersebut diarahkan untuk memperkuat praktik ekonomi sirkular di tingkat desa. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi residu dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi,” kata dia.

Kegiatan ini didanai melalui Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bekerja sama dengan Universitas Brawijaya.
Tim UB berharap pendampingan tersebut dapat berlanjut melalui konsistensi pengelola Bank Sampah Dworowati, peningkatan partisipasi warga, serta pencatatan produksi dan pemasaran kompos secara tertib. Dengan demikian, pengelolaan sampah organik tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan di Desa Ngabab.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....