Seleksi KRTI, Drone Penyelamat Aeronautika Brawijaya Raih Poin Penuh

  • 18 Agt 2026 13:30 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tim Aeronautika Brawijaya dari Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya (UB) menuntaskan seluruh misi pada seleksi wilayah Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026. Mengusung konsep drone penyelamat, tim berhasil meraih full point dengan waktu penyelesaian 55 detik.

Seleksi wilayah KRTI 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berlangsung secara daring melalui Zoom, Jumat (14/8/2026) lalu. Sebanyak 51 perguruan tinggi dari berbagai daerah ambil bagian dalam kompetisi yang berlangsung selama dua hari.

Dari seluruh peserta, 16 tim terbaik akan dipilih untuk melaju ke tahap berikutnya yang dijadwalkan berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Tim Aeronautika Brawijaya didampingi dosen pembimbing Cries Avian, S.T., M.T., Ph.D. Tim inti terdiri atas Alexander Stormy Bramantyo pada bagian elektrikal, Alfi Sayfullah pada software, serta Arjunadinata Richie Romeo Hadi pada mekanikal.

Sementara itu, Muhammad Fadhil Qutrunnada bertugas sebagai pilot sekaligus menangani bagian elektrikal. Ia didukung Devint Nehal Dhahiri pada software dan Fidel Christian Supeno pada mekanikal sebagai pit crew.

Dalam seleksi tersebut, peserta menghadapi misi menerbangkan drone untuk membawa dan menjatuhkan medical kit ke dalam kotak yang telah disediakan. Drone juga harus melewati lintasan berupa lorong atau gate dengan navigasi tanpa mengandalkan GPS sebagai sistem utama.

Keberhasilan tim ditentukan berdasarkan kemampuan menyelesaikan seluruh misi, ketepatan menjatuhkan medical kit, serta waktu tempuh apabila terdapat peserta dengan capaian misi yang sama.

Pilot Tim Aeronautika Brawijaya, Muhammad Fadhil Qutrunnada mengatakan, kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan misi.
“Angin kencang berpotensi mengganggu kestabilan drone saat terbang,” ujarnya.

Namun, kondisi tersebut telah diantisipasi melalui serangkaian uji coba yang dilakukan beberapa hari sebelum kompetisi. Tim menguji sejumlah metode untuk mendapatkan sistem yang paling tepat dalam menjaga kestabilan dan akurasi penerbangan.

“Kendalanya lebih banyak dari eksternal, seperti cuaca dan angin yang cukup kencang sehingga membuat drone tidak stabil. Tapi berkat kerja keras tim dari hari-hari sebelumnya, kami sudah melakukan uji coba dengan metode yang berbeda dan terbukti akurat,” jelas Fadhil.

Persiapan tersebut membuahkan hasil. Tim Aeronautika Brawijaya berhasil menyelesaikan seluruh misi dengan full point dan mencatatkan waktu 55 detik.

Performa drone ditunjang sejumlah teknologi yang dikembangkan tim. Di antaranya LiDAR untuk mengukur jarak drone dengan permukaan tanah, optical flow untuk mendeteksi pergerakan berdasarkan tekstur permukaan, barometer untuk memperkirakan ketinggian berdasarkan tekanan udara, serta sistem vision menggunakan kamera depan untuk mendeteksi gate berdasarkan warna.

“LiDAR digunakan untuk mengukur jarak drone dengan tanah. Lalu ada optical flow, kamera khusus untuk mendeteksi pergerakan tekstur di tanah. Ada juga barometer untuk mendeteksi ketinggian dari tekanan udara dan vision menggunakan kamera depan untuk mendeteksi gate dari warna,” ujar Alexander.

Capaian tersebut menjadi hasil dari persiapan dan kolaborasi seluruh anggota tim. Meski hasil resmi tim yang lolos ke tahap berikutnya belum diumumkan, Aeronautika Brawijaya optimistis dapat melanjutkan perjuangan di KRTI 2026.

“Belum ada pengumuman lanjutan. Tapi kita optimistis buat di sana,” pungkas Alexander.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....