Gubuk Tulis Hidupkan Literasi Kampung lewat Seni dan Budaya

  • 13 Agt 2026 18:20 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Komunitas Gubuk Tulis mendorong budaya literasi di masyarakat dengan memadukan kegiatan membaca dan menulis bersama seni serta kearifan lokal. Hal tersebut dibahas dalam dialog Malang Siang Ini di Pro 1 RRI Malang

Kepala Suku Gubuk Tulis, Moh. Yajid Fauzi, mengatakan kegiatan literasi tidak selalu harus dilakukan dalam bentuk diskusi buku atau kegiatan membaca secara formal. Pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dinilai dapat membuat kegiatan literasi lebih menarik dan berkelanjutan.

"Pernah kita lakukan melalui kegiatan Sastra Purnama di Kampung Tembalangan, Kota Malang. Kegiatan yang digelar saat malam bulan purnama itu menggabungkan sastra dengan berbagai kesenian yang berkembang di lingkungan masyarakat," ungkap Yajid saat dikonfirmasi RRI, Kamis (13/8/2026).

Yajid mengatakan kegiatan tersebut melibatkan anak-anak muda dan warga yang memiliki bakat seni untuk tampil di hadapan masyarakat. Selain tari dan bantengan, kegiatan itu juga menghadirkan pembacaan puisi serta musikalisasi puisi.

Menurutnya, perpaduan tersebut membuat kegiatan literasi terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat karena mengangkat potensi dan budaya lokal. Antusiasme warga juga terlihat dari keterlibatan berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Ia menilai pendekatan berbasis kesenian dapat menjadi salah satu cara menjaga kegiatan literasi agar tidak hanya ramai ketika pertama kali diluncurkan. Masyarakat diberikan ruang untuk berpartisipasi, menampilkan kreativitas, sekaligus mengenal literasi melalui aktivitas yang mereka sukai.

Sementara itu, Redaktur Gubuk Tulis, Luluk Rohmatul Ulya, mengatakan komunitas juga membuka ruang bagi masyarakat yang ingin belajar menulis. Menurutnya, membaca menjadi modal penting bagi seseorang yang ingin mulai menghasilkan tulisan.

"Salah satu kesalahan yang masih sering ditemukan pada penulis pemula adalah penggunaan tanda baca serta penulisan kata “di” sebagai imbuhan dan kata depan. Karena itu, proses belajar menulis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menuangkan gagasan, tetapi juga memahami kaidah bahasa," jelas Luluk.

Menurut Luluk, menulis juga tidak selalu harus diarahkan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Aktivitas tersebut dapat menjadi kebutuhan manusia untuk menyimpan gagasan, pengalaman, dan pemikiran yang suatu saat dapat dibaca kembali oleh orang lain.

Yajid menambahkan bahwa karya tulisan dapat menjadi bentuk keabadian karena tetap bisa dibaca meskipun penulisnya telah meninggal. Melalui perpaduan literasi, seni, dan budaya lokal, Gubuk Tulis berharap semakin banyak masyarakat memiliki ruang untuk membaca, berpikir, dan menghasilkan karya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....