Polinema Perkuat Keselamatan Banyumaro River Tubing Berbasis Teknologi IoT
- 12 Agt 2026 14:17 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tim dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) memperkuat aspek keselamatan wisata Banyumaro River Tubing di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, melalui penerapan teknologi Internet of Things (IoT).
Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Penguatan Keselamatan Wisata Sungai melalui Sistem Pemantauan Kondisi Sungai dan Curah Hujan berbasis IoT di Banyumaro River Tubing” tersebut mendapat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026.
Tim pengabdian dipimpin Ikrar Hanggara, S.T., M.T., bersama Wahyu Aulia Nurwicaksana, S.S.T., M.Tr.T. dan Erlillah Rizqi Kusuma Pradani, S.S.T., M.Tr.T. Sejumlah mahasiswa dari jurusan teknik mesin dan elektro juga terlibat mulai dari tahap perancangan hingga pendampingan kepada pengelola wisata.
Penerapan sistem ini dilatarbelakangi karakter wisata river tubing yang sangat bergantung pada kondisi sungai. Hujan di wilayah hulu dapat menyebabkan kenaikan tinggi dan debit air secara tiba-tiba, meski kondisi cuaca di lokasi wisata masih terlihat cerah.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, tim Polinema memasang perangkat pemantauan berbasis IoT yang mampu mengirimkan data kondisi sungai secara real-time. Perangkat tersebut dilengkapi sensor ketinggian air, debit sungai, serta curah hujan.
Menariknya, sistem pemantauan ini menggunakan panel surya sebagai sumber energi. Dengan demikian, perangkat dapat beroperasi secara mandiri tanpa bergantung pada jaringan listrik sekaligus tidak menambah beban biaya operasional bagi pengelola.
Informasi kondisi sungai juga dibuat terbuka bagi wisatawan. Pengelola menyediakan barcode di basecamp Banyumaro River Tubing yang dapat dipindai menggunakan telepon pintar. Setelah dipindai, pengunjung dapat melihat informasi terkini mengenai ketinggian air, debit sungai, dan curah hujan sebelum mengikuti aktivitas tubing.
Ketua tim pengabdian, Ikrar Hanggara, mengatakan penerapan teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk memasang perangkat pemantauan, tetapi juga membantu pengelola mengambil keputusan berdasarkan data.
“Kami melihat potensi wisata sungai di Desa Wringinanom sangat besar, tetapi risikonya juga nyata. Karena itu pendekatan yang kami pilih bukan sekadar memasang alat, melainkan membangun sistem pengambilan keputusan yang berbasis data,” ujar Ikrar, Minggu (9/8/2026)
Menurutnya, informasi dari sensor dapat membantu pengelola mengetahui perubahan kondisi sungai lebih awal sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan sebelum kondisi menjadi berisiko.
Selain pemasangan perangkat, tim Polinema memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pengelola serta pemandu wisata. Pelatihan dilaksanakan dalam dua tahap, yakni pada 22 Juli dan 31 Juli 2026.
Materi yang diberikan mencakup pengoperasian perangkat, pembacaan dan interpretasi data, prosedur tanggap ketika kondisi sungai melewati ambang aman, hingga perawatan perangkat.
Pemilik Banyumaro River Tubing, Galuh Prasetyo, menyambut baik penerapan sistem tersebut. Ia mengatakan selama ini pengelola mengandalkan pemantauan manual, pengalaman pemandu, serta tanda-tanda alam dalam menentukan apakah aktivitas tubing dapat dilakukan.
“Sekarang kami punya data yang bisa dilihat langsung dari ponsel, kapan pun, dan alatnya berjalan sendiri menggunakan tenaga matahari,” kata Galuh.
Menurut Galuh, keterbukaan informasi melalui barcode juga memberikan rasa percaya kepada wisatawan karena mereka dapat mengetahui kondisi sungai sebelum mengikuti kegiatan.
Hal serupa dirasakan para pemandu. Sistem pemantauan tersebut dinilai membantu mereka dalam mengambil keputusan sebelum membawa wisatawan ke sungai.
Dengan adanya data ketinggian air, debit sungai, dan curah hujan, pemandu dapat lebih cepat menentukan apakah kegiatan tubing dapat dilaksanakan atau perlu ditunda ketika kondisi tidak aman.
Tim Polinema berharap sistem tersebut dapat terus dimanfaatkan dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat setelah program pengabdian selesai. Data yang terkumpul secara berkelanjutan juga berpotensi menjadi sumber informasi untuk mendukung pengelolaan wisata sungai yang lebih aman dan berbasis teknologi.
Ke depan, penerapan teknologi serupa diharapkan dapat dikembangkan pada destinasi wisata sungai lainnya di Kabupaten Malang. Program ini sekaligus menjadi bentuk kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghadirkan teknologi yang menjawab kebutuhan nyata di sektor pariwisata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....