UIBU-UNITRI Kenalkan Pengolahan Sampah Organik Berbasis Eco-STEM
- 12 Agt 2026 09:18 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Pengolahan sampah organik di lingkungan sekolah dikembangkan menjadi bagian dari pembelajaran sains dan numerasi melalui program Bio-Decomposition Lab Berbasis Keranjang Takakura Eco-STEM di SMA Islam Diponegoro Wagir, Kabupaten Malang.
Program tersebut digagas tim dosen Universitas Insan Budi Utomo (UIBU) Malang dan Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Kegiatan berlangsung secara bertahap sejak Juni hingga Agustus 2026 dengan pendanaan dari Direktorat Pemberdayaan Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Program dipimpin Ismi Nurul Qomariyah, M.Pd., dosen Pendidikan Biologi UIBU, bersama Mistianah, M.Pd., dosen Pendidikan Biologi UIBU, serta Rudy Setiawan, M.Pd., dosen Pendidikan Matematika Unitri.
Melalui program tersebut, metode Keranjang Takakura dipadukan dengan pendekatan Eco-STEM yang mencakup Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Siswa tidak hanya diajak mengolah sampah organik, tetapi juga memanfaatkan proses pengomposan sebagai objek pembelajaran.
Ketua Tim Pengabdian, Ismi Nurul Qomariyah mengatakan, pendekatan tersebut dirancang agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan kebersihan, tetapi menjadi bagian dari proses belajar yang dapat diamati dan diukur siswa.
“Keranjang Takakura merupakan media yang cocok untuk lingkungan sekolah karena praktis, tidak berbau, dan higienis. Melalui pendekatan Eco-STEM, siswa tidak hanya belajar biologi tentang proses dekomposisi mikroorganisme, tetapi juga diajak mengukur suhu, kelembapan, hingga menghitung efisiensi hasil kompos secara matematis,” katanya, Rabu (12/8/2026).
Sementara itu, Rudy Setiawan menjelaskan, pencatatan data selama proses pengomposan dapat digunakan untuk memperkenalkan konsep numerasi dan statistik kepada siswa melalui persoalan yang mereka temui secara langsung.
“Melalui pencatatan data harian dalam Bio-Decomposition Lab, siswa secara langsung menerapkan konsep dasar statistik dan numerasi lingkungan untuk memantau kualitas kompos yang mereka hasilkan,” ujarnya.
Pendekatan tersebut membuat proses pembelajaran lebih kontekstual karena siswa dapat melihat hubungan antara konsep yang dipelajari di kelas dengan persoalan lingkungan di sekitar mereka.
Kepala SMA Islam Diponegoro Wagir, Aisyah Alabariroh, M.Pd. menyebut, program tersebut membantu sekolah mengembangkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis.
“Kegiatan ini sangat mengedukasi anak-anak kami untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus mengasah keterampilan berpikir kritis melalui pendekatan STEM. Harapan kami, sistem Takakura ini bisa terus berlanjut secara mandiri di sekolah,” ujarnya.
Melalui program tersebut, pengolahan sampah organik diharapkan dapat menjadi kegiatan rutin di sekolah sekaligus mendukung penerapan pembelajaran berbasis lingkungan. Siswa juga diharapkan mampu memahami bahwa sampah organik dapat dikelola menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Tim pengabdi berharap keberlanjutan Bio-Decomposition Lab dapat mendorong SMA Islam Diponegoro Wagir menjadi salah satu contoh penerapan pengelolaan sampah organik berbasis pembelajaran STEM di Kabupaten Malang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....